Sa'Unine Ngamen Tamasya di Lawang Sewu Semarang
Kelompok tersebut menyajikan banyak lagu yang diaransemen ulang dengan sentuhan orkestra, misalnya lagu Paris Berantai, dan Tak Lelo Ledhung.
Penulis: ptt | Editor: jun
TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Suasana halaman belakang Gedung Lawang Sewu seolah kembali ke masa lalu saat terdengar alunan musik hasil gesekan kelompok Sa'Unine String Orchestra, Minggu (18/9/2011). Puluhan musisi menggesek violin, viola, cello dan kontra bas menghibur para pengunjung bangunan bersejarah landmark Kota Semarang, Jateng, tersebut.
Orkestra beranggotakan dosen, alumni dan mahasiswa Institut Seni Indonesi (ISI) Yogyakarta ini membuat para penonton tak beranjak dari tempat mereka berdiri di bawah pohon manggai. Kelompok tersebut menyajikan banyak lagu yang diaransemen ulang dengan sentuhan orkestra, misalnya lagu Paris Berantai, Sapu Lidi, Nina Bobo, Owa Owa dan Tak Lelo Ledhung.
Saat rehat, Oni Krisnerwinto, konduktor Sa'Unine, memberi kesempatan kepada para penonton untuk menanyakan berbagai hal. Seorang penonton, Hedi (13), menanyakan cara menjadi anggota Sa'Unine String Orchestra.
"Untuk bisa menjadi anggota Sa'Unine, masuk ke sekolah musik, atau setidaknya belajar alat musik, kemudian suka terhadap musik dari alat gesek. Keanggotaan kelompok kami ini terbuka untuk siapa saja, tidak menutup untuk kalangan tertentu," jawab Oni.
Adapun Manajer Sa'Unine, Eka Patriciant, kepada Tribun Jogja mengatakan, visi-misi kelompok ini membuatnya mau mengurus mereka secara manajerial. "Orkestra biasanya bermain hanya untuk komersiil saja tapi Sa'Unine beda. Mereka juga memperkenalkan alat musik gesek yang digunakan dalam orkestra melalui lagu-lagu dolanan dan tradisional agar lebih mudah diingat," bebernya.
Nilai plus lain, beberapa anggota Sa'Unine yang juga menjadi additional player orkestra Adi Riyanto dan Adhie MS, rela meluangkan waktu untuk mengisi 'Ngamen Tamasya 2011' selama 10 hari. "Rasa kekeluargaannya lebih kental di kelompok ini. Meski masing-masing anggota dibebaskan mengisi kelompok orkestra lain tapi selalu berusaha membantu jika Sa'Unine mempunyai program begini," papar Eka, yang sudah tiga tahun menangani kelompok ini.
Perempuan muda berkulit kuning langsat itu menjelaskan, ada pertimbangan tertentu memilih tempat dan kota yang disinggahi selama 'Ngamen Tamasya 2011'. "Kami memilih kampus-kampus atau sekolah serta landmark kota agar lebih mudah memerkenalkan Sa'Unine dan musik orkestra ke generasi muda dan masyarakat umum dengan konsep lebih santai dan fun. Agar mereka tertarik dan kemudian mau belajar musik karena di Indonesia mulai jarang musisi untuk orkestra," ujarnya.
Setelah main di Semarang, kelompok musik yang berdiri 9 Juni 1992 ini bermain di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, kemudian Solo. "Sa'Unine mempunyai cerita terhadap tempat tersebut (UKSW, Red), dan menjadi titik balik untuk membentuk kelompok ini," kata Eka.
Adapun Oni saat ditemui seusai acara mengatakan, musik baginya tidak hanya sekadar kata-kata tetapi lebih menyatu dan memberikan perasaan positif untuk menghibur. "Konsep kami lebih fun, dekat penonton dan selalu berinteraksi dengan mereka. Selain agar mereka tertarik tapi juga untuk lebih menghibur," tuturnya.
Mengenai alasan pemilihan nama, Oni menjelaskan, makna Sa'Unine yang berarti 'asal bunyi' sebenarnya untuk merendah sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab untuk tidak sekedar asal bunyi. "Maknanya bagi orang Jawa untuk merendah, meskipun kami mempunyai tanggung jawab agar tidak sekedar bunyi. Makna lainnya, bunyi apa saja yang sanggup dihasilkan," katanya. (*)