Tapa Bisu Jalan Kaki 12 Km Dari Piyungan ke Alun-alun Utara
Bantul : Tapa Bisu Jalan Kaki 12 Km Dari Piyungan ke Alun-alun Utara
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sekitar 70 orang berjalan kaki sekitar 12 Km mulai dari Pesantren Kaliopak Jl. Wonosari Km 11, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul hingga alun-alun utara di pusat kota Yogyakarta. Acara jalan kaki itu bernama 'Lampah ratri "merti luhuring laku sunan kalijaga" yang digelar Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia
(Lesbumi) Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Artinya berjalan kaki di malam hari untuk nguri-uri napak tilas Sunan Kalijaga yang berjasa di empat masa kerajaan yaitu majapahit, demak, pajang dan mataram islam. Acara ini dalam rangka memperingati 500 tahun Sunan Kalijaga, " kata Ketua Lesbumi DIY Jadul Maula, Senin (18/7) malam.
Perjalanan itu akan dilakukan sembari mengawal air dari sendang urip yang berada di jatimulyo, dlingo, Bantul yang sudah diambil sejak kamis. Setelah diambil, air yang berasal dari sendang buatan Sunan Kalijaga itu, didoakan dulu di makam Sunan Geseng pada acara budaya Kupatan Jolosutro.
"Senin sore sekitar 17.30, tadi air yang dimasukkan kendi itu datang," jelasnya.
Rombongan itu akan melewati beberapa tempat yaitu, Pesantren Kaliopak menuju wotgaleh yang sudah dinanti sultan Palembang mahmud Badaruddin. Setelah itu, mereka akan estafet menujut kota gedhe. Dari situ akan menuju alun-alun utara.
Ketua Panitia peringatan 500 tahun Sunan Kalijogo Webie mahardikka menjelaskan rombongan terdiri atas beberapa baris rombongan, antara lain :
- Bagian depan terdiri atas pembawa satu obor, bendera merah putih, dua orang memegang spanduk lampah ratri, dan Bergodo wirokerten yang diibagi dua.
- Bagian kedua: wayang yang ditata satu-satu orang.
- Bagian ketiga : jodhang isi air dari sendang banyu urip
- Bagian keempat : barisan para santri dari pelangi
- Bagian kelima: teman-teman yang tidak membawa apa-apa atau peserta yang ikut dalam rombongan
- Bagian enam: noyokerten kedua
Webbie mengingatkan bahwa dalam ritual jalan kaki napak tilas Sunan Kalijaga ini, peserta harus melaksanakan tapa bisu. Tidak boleh berbicara, makan, maupun menyalakan handphone.
"Kalau di setiap tempat persinggahan baru boleh ngobrol, tapi pas jalan tidak boleh," jelasnya.