Joja Furniture Sulap Kayu Jati Repro Jadi Properti
Kayu jati repro atau kayu jati yang pernah dipakai untuk bangunan rumah menjadi andalan Joja Furniture untuk menggebrak pasar Yogyakarta.
Tayang:
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti
YOGYA, TRIBUN - Kayu jati repro atau kayu jati yang pernah dipakai untuk bangunan rumah menjadi andalan Joja Furniture untuk menggebrak pasar furniture di Yogyakarta. "Semakin tua kayunya, semakin bagus kualitasnya," ujar Manajer Marketing Joja Furniture, Lyza Anggraheni saat ditemui Tribun Jogja di pameran interior Ambarukmo Plaza, Jumat (11/3/2011).
Dengan menggabungkan disain Yunani dan modern, Joja Furniture menyulap bongkahan kayu jati lama menjadi berbagai furnitur, seperti meja santai berukuran sekitar 1 x 0,5 meter bergaya klasik yang dipajang di tengah lapak pamerannya. Meja yang dipoles menggunakan white wash ini hanya dibandrol seharga Rp 2 jutaan. "Bagi pelanggan yang mengerti furnitur, pasti akan berpikir harga ini murah sekali untuk furnitur berbahan kayu jati," tambah Lyza.
Perusahaan furniture yang sudah melayani properti untuk diekspor ke luar negeri sejak 1994 ini sudah mampu memproduksi 20an produk per bulannya. Dengan fasilitas gratis disain 3D interior, bulan ini sepuluh rumah sudah siap untuk didisain Joja. Apalagi setelah mengikuti pameran interior, perusahaan yang dikelola Ryani Utami ini mengalami peningkatan jumlah pelanggan. "Kalau biasanya satu pelanggan, sekarang sudah lima pelanggan yang sampai minta diukurkan," paparnya.
Perusahaan yang kini bermain di penjualan lokal ini juga mengisi interior villa di Bali, dan melengkapi perabotan di Hotel Hilton. Pabrik ekspornya di Piyungan Bantul juga masih melayani pesanan dari luar negeri, antara lain Spanyol, Swedia, Belgia, Perancis dan Yunani. Sementara pabrik untuk produksi lokalnya di kawasan Palagan, banyak mengirimkan produknya ke Jakarta, Bali dan Magelang. "Antara ekspor dan penjualan domestik, presentasenya fifty-fifty," paparnya.
Pada produk kitchen set-nya, Joja juga menggunakan kayu jati repro yang dipadu dengan granit sebagai table top. Kitchen set berdisain minimalis dengan ukuran 3 x 2,5 meter yang pernah dikerjakannya, dihargai Rp 12 juta. Digunakannya kayu jati sebagai bahan dasar kitchen setnya ini, diakuinya karena material lain seperti multiplek tidak mempunyai umur panjang, terlebih untuk dipasang di dapur. "Umur multiplek hanya lima tahun, dan akan semakin tidak awet jika terus-terusan kena air," lanjutnya.
Untuk merangkul pasarnya, Joja juga menyediakan berbagai pilihan kayu selain jati bagi pelanggannya, seperti mahoni, midi dan multiplek. Ia mengatakan, untuk segmentasi middle low, Joja menawarkan material multiplek yang harganya relatif murah. Namun masalah harga, semuanya tergantung disain, ukuran dan material yang dipakainya. "Yang jelas kualitasnya bagus," ucapnya.
Untuk produk-produk spesialnya, Joja hanya menerima pesanan dari pelanggan. Pelanggan bisa berkonsultasi dan minta digambarkan disain 3D-nya dengan gratis. Usai pelanggan melakukan konsultasi dan menyetujui disainnya, pengerjaan pun bisa dilakukan. "Pengerjaan kitchen set hanya memakan waktu tiga minggu," paparnya. (gya)
Dengan menggabungkan disain Yunani dan modern, Joja Furniture menyulap bongkahan kayu jati lama menjadi berbagai furnitur, seperti meja santai berukuran sekitar 1 x 0,5 meter bergaya klasik yang dipajang di tengah lapak pamerannya. Meja yang dipoles menggunakan white wash ini hanya dibandrol seharga Rp 2 jutaan. "Bagi pelanggan yang mengerti furnitur, pasti akan berpikir harga ini murah sekali untuk furnitur berbahan kayu jati," tambah Lyza.
Perusahaan furniture yang sudah melayani properti untuk diekspor ke luar negeri sejak 1994 ini sudah mampu memproduksi 20an produk per bulannya. Dengan fasilitas gratis disain 3D interior, bulan ini sepuluh rumah sudah siap untuk didisain Joja. Apalagi setelah mengikuti pameran interior, perusahaan yang dikelola Ryani Utami ini mengalami peningkatan jumlah pelanggan. "Kalau biasanya satu pelanggan, sekarang sudah lima pelanggan yang sampai minta diukurkan," paparnya.
Perusahaan yang kini bermain di penjualan lokal ini juga mengisi interior villa di Bali, dan melengkapi perabotan di Hotel Hilton. Pabrik ekspornya di Piyungan Bantul juga masih melayani pesanan dari luar negeri, antara lain Spanyol, Swedia, Belgia, Perancis dan Yunani. Sementara pabrik untuk produksi lokalnya di kawasan Palagan, banyak mengirimkan produknya ke Jakarta, Bali dan Magelang. "Antara ekspor dan penjualan domestik, presentasenya fifty-fifty," paparnya.
Pada produk kitchen set-nya, Joja juga menggunakan kayu jati repro yang dipadu dengan granit sebagai table top. Kitchen set berdisain minimalis dengan ukuran 3 x 2,5 meter yang pernah dikerjakannya, dihargai Rp 12 juta. Digunakannya kayu jati sebagai bahan dasar kitchen setnya ini, diakuinya karena material lain seperti multiplek tidak mempunyai umur panjang, terlebih untuk dipasang di dapur. "Umur multiplek hanya lima tahun, dan akan semakin tidak awet jika terus-terusan kena air," lanjutnya.
Untuk merangkul pasarnya, Joja juga menyediakan berbagai pilihan kayu selain jati bagi pelanggannya, seperti mahoni, midi dan multiplek. Ia mengatakan, untuk segmentasi middle low, Joja menawarkan material multiplek yang harganya relatif murah. Namun masalah harga, semuanya tergantung disain, ukuran dan material yang dipakainya. "Yang jelas kualitasnya bagus," ucapnya.
Untuk produk-produk spesialnya, Joja hanya menerima pesanan dari pelanggan. Pelanggan bisa berkonsultasi dan minta digambarkan disain 3D-nya dengan gratis. Usai pelanggan melakukan konsultasi dan menyetujui disainnya, pengerjaan pun bisa dilakukan. "Pengerjaan kitchen set hanya memakan waktu tiga minggu," paparnya. (gya)