Umat Nonmuslim Pundong Sering Diundang Tahlilan
Kalau ada tahlilan atau syukuran, warga nonmuslim juga diundang."
Laporan Reporter Tribun Jogja, Anugerah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Masjid Al-Barokah letaknya berdekatan dengan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Patalan Pepanthan Pundong. Tempat ibadah itu hanya dipisahkan lima rumah. Awalnya, hubungan umat kedua agama di daerah tersebut kaku dan kurang terbuka.
Namun, kondisi itu mencair dan umat kedua agama bisa hidup berdampingan secara damai. "Kalau ada tahlilan atau syukuran, warga nonmuslim juga diundang," kata majelis gereja, Nuryanto (51) saat ditemui di kediamannya, Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (11/2/2011).
Ia mengatakan, saat mendapat undangan tahlilan atau syukuran, warga nonmuslim menghadiri undangan tanpa harus sungkan. Umat muslim yang mengundang pun mempersilakan warga nonmuslim mengikuti acara sampai selesai.
Setiap ada penduduk yang meninggal dunia pasti diumumkan di masjid dengan pengeras suara. Pengurus masjid pun terbuka terhadap pengumuman berita duka umat nonmuslim. Pengurus masjid menyampaikan berita duka dengan cara biasa, tanpa membedakan agamanya.
Demikian juga saat perayaan Natal di gereja. Perayaan Natal tahun 2005 sampai 2008, pihak majelis gereja memakai gamelan untuk mengiringi ibadah. Karena kekurangan pemain, warga beragama Islam yang bisa memainkan gamelan pun ikut bergabung. Untuk menyesuaikan, susunan acara ibadah dibuat supaya tak terlalu formal.
Pihak majelis gereja juga membantu pembangunan masjid yang rusak, misalnya masjid yang rusak akibat gempa 2006. Sampai saat ini, belum ada forum komunikasi yang rutin antar umat kedua agama. Nuryanto masih mengharapkan adanya forum komunikasi tersebut. "Supaya bisa saling diskusi dan membahas berbagai hal yang terjadi di Dusun Piring," katanya.
Menanggapi kasus kekerasan bermotif agama yang terjadi belakangan ini, Bupati Bantul, Sri Suryawidati mengadakan pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kantor Pemkab, Bantul, Jumat (11/2/2011). "Pertemuan ini untuk melakukan koordinasi mencegah terjadinya kekerasan bermotif agama seperti yang belakangan terjadi di luar Bantul," ujar Suryawidati. (*)

