Omzet Walang Goreng Pak Gareng 20 Kilogram Per Hari
Ia mengaku bisa menjual walang goreng 20 Kilogram per hari
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Subagyo (51) terharu saat cerita perjalanan bisnisnya menjual walang (belalang) goreng. Warga Selang, Kecamatan Wonosari ini, sering menangis setiap menerima uang dari pelanggannya. "Gak tahu itu menangis sedih apa bukan, tapi saya bersyukur mas," ungkapnya saat ditemui Tribun Jogja, Kamis (10/2/2011).
Ia mengaku bisa menjual walang goreng 20 Kilogram per hari. Hampir semua pusat oleh-oleh di Gunungkidul, mengambil produknya. Bahkan bakpia Java dan Pamella swalayan di Yogyakarta, juga mengambil walang goreng buatannya. Untuk setiap pengambilan walang goreng, hampir 70-90 toples. "Hampir seminggu dua kali, bakpia Java datang mengambil dagangan walang goreng," ujarnya.
Permintaan walang goreng di pasaran saat ini meningkat drastis. Ia mengaku hampir kuwalahan memenuhi permintaan pelanggan. Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia harus mendatangkan 15-20 Kilogram walang kayu dari Purworejo. Ia tak menyangka usahanya membuahkan hasil memuaskan. Omzetnya mencapai Rp 9 juta perbulan.
Ia mengaku tak menyangka usahanya bisa sukses. Berkat bisnis walang goreng, ia bisa membuka peluang kerja di rumahnya, membeli rumah besar untuk keluarga dan mobil. "Itu semua hasil walang goreng," kata pria yang pernah jadi sopir bus jurusan Yogyakarta - Wonosari pada 1978-1998.
Pria beranak empat dan bercucu satu ini, mengaku selama ini usahanya stabil, bahkan cenderung meningkat. "Saya syukuri. Bagi saya kerja keras itu tetap yang utama," ungkap bapak yang akrab dipanggil Pak Gareng ini.
Kesuksesannya itu tak diraih dengan mudah. Pada awalnya, ia berjualan bungkusan belalang saja. Saat itu harganya hanya Rp 500 per bungkus. Saat ini ia percaya diri dengan bisnis walang gorengnya. Pelanggannya kebanyakan dari kalangan menengah atas.
Untuk menambah cita rasa, ia mengaku tidak banyak mencampur bumbu macam-macam. "Yang penting enak dan bersih, itu kuncinya," katanya. Produknya pun saat ini telah mendapat sertifikat PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dari Departemen Kesehatan.
Berbeda dengan Eko, warga Paca Rejo, Kecamatan Semanu, yang setiap hari menjual walang kayu mentah. Ia menjual pelanggan belalangnya sampai sore ini di Jalan Wonosari-Semanu. "Setiap hari hanya bisa menjual 10 renteng. Kalau ada yang tak laku saya jual ke Pak Gareng, per ekornya Rp 100," ujar bapak dua anak yang juga sebagai petani ini. (*)

