Relawan SAR Merapi Dibui
Malam itu Polisi Tak Bilang Saya Ditahan
Ya, anggep saja apes. Gara-gara pisau lipat bisa kena tuntutan 10 tahun.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Arief Johar Cahyadi Permana (24), relawan SAR DIY asal Klaten sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman sejak 6 Januari 2011. Ia menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) atas dakwaan kepemilikan senjata tajam berupa pisau lipat.
Pisau lipat, ditambah dengan golok dan linggis, merupakan sarana taktis SAR pada operasi evakuasi korban bencana erupsi Merapi selain golok dan linggis. "Pisau lipat itu sekaligus korek dan senter, jadi selalu saya bawa kemana-mana," kata Arief saat ditemui Tribun Jogja di Lapas pada jam besuk Lapas, Rabu (02/02/2011).
Arief ditangkap petugas Polres Sleman, saat razia 23 November 2010 pukul 23.30 WIB di Jembatan Timbang, Maguwoharjo. Pada razia tersebut, ada 18 orang terjaring, untuk berbagai macam kasus, termasuk senjata tajam dan narkoba.
Karena ketahuan membawa pisau SAR, Arief bersama 17 orang lainnya digelandang ke Mapolres Sleman. “Malam itu polisi nggak bilang mau ditahan. Mereka hanya bilang, saya dibawa ke polres untuk pendataan. Jadi saya ikut aja," ujar Arief mencoba mengingat peristiwa penangkapannya.
Namun, saat tiba di Mapolres, Arief tidak diijinkan pulang. Bahkan, barang-barang serta telepon genggamnya ditahan. Keesokan harinya (24/11/2010) Arief diminta menandatangi surat penahanan.
Sontak Arief kaget, namun tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya minta dipinjami telepon agar bisa menghubungi orangtuanya. "Sore hari baru saya dipinjami hape. Setelah saya telepon, orangtua dan beberapa teman SAR mengunjungi saya," kenang Arief.
Mahasiswa Akuntansi Universitas Islam Indonesia (UII) ini mengaku menyesal tidak mengatakan statusnya sebagai relawan SAR DIY saat razia dan pemberkasan di kepolisian.
"Prosesnya cepat. Saya juga gugup. Ya, anggep saja apes. Gara-gara pisau lipat bisa kena tuntutan 10 tahun," ujarnya sambil tersenyum getir.
Kini, setelah ia mendekam di Lapas Cebongan, Arief sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalannya. Laki-laki pemalu ini terlihat tegar, karena ia yakin tidak merasa bersalah. "Jarang-jarang bisa masuk penjara. Bisa jadi pengalaman seumur hidup," kata Arief sambil tertawa kecil.
Sejak dipindah dari ruang tahanan Polres Sleman ke Lapas Cebongan pada 6 Januari 2011 lalu, Arief malah banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. “Alhamdulillah, tiap pagi bisa mengaji. Dulu di luar, jarang-jarang,” katanya polos. (*)