Evakuasi WNI dari Mesir

Juragan Bakso Mesir itu Terpaksa Mudik Setelah Ada Jam Malam

Kegiatan bisnis terhenti, saya juga harus menutup warung dan kembali ke tanah air.

Tayang:
Editor: mas
zoom-inlihat foto Juragan Bakso Mesir itu Terpaksa Mudik Setelah Ada Jam Malam
TRIBUNJOGJA.COM/HANAN WIYOKO
unawan Hariyanto, saat bertemu Tribun Jogja di Yogyakarta, Selasa (1/2/2011).
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hanan Wiyoko, obed Doni dan Ade Rizal

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengusaha bakso asal Jogja, Gunawan Hariyanto, bisnisnya terpuruk akibat kerusuhan di Mesir. Pemilik Restoran  bakso Gama' di wilayah Gama', Kairo, Mesir ini terpaksa menutup warungnya sejak 23 Januari lalu. Ia kembali ke kampung halamannya di wilayah Depok, Sleman.

"Kegiatan bisnis terhenti, saya juga harus menutup warung dan kembali ke tanah air," kata bapak berputra dua yang juga kepala perwakilan perusahaan swasta di Mesir ini, Selasa (1/2/2011). Ia pulang ke Jogja dan memilih menunggu keamanan Mesir pulih.

Sejak Januri 2011, ketika warung baksonya masih beroperasi, Gunawan kesulitan mendapatkan bahan baku daging. Toko-toko daging di Kairo sudah mulai banyak yang tutup. “Setahu saya, mereka (penjual daging) sudah mulai khawatirkan keamanan. Jadinya, cari bahan baku susah. Cari ees untuk membuat minuman susah, bahan-bahan membuat bakso juga susah," kata Gunawan.

Tak hanya itu, para pekerjanya juga sudah mulai banyak yang tidak masuk kerja. Bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sering terjebak kemacetan saat berangkat ke warung Bakso Gama’. Gunawan memperkerjakan 15 karyawan yang sebagian besar mahasiswa asal Indonesia. “Sebagian lagi sudah mulai takut keluar, karena sering terjadi demo,” katanya.

Nasib warung Bakso Gama’ semakin lengkap, ketika demo di jalanan Kota Kairo semakin membesar. Hampir semua warga Kairo enggan keluar rumah, tak lagi banyak dikunjungi pelanggan. "Mereka tak berani berani keluar rumah," ujarnya.

Apalagi ketika jam malam diberlakukan, praktis warung yang setiap hari buka dari pukul 19.00 hingga pukul 24.00 WIB waktu setempat itu juga harus ikut tutup. Demikian halnya dengan 15 warung milik WNI di kompleks Nasir City, semuanya ikut tutup. “Saya belum dapat kabar, pemiliknya masih di sana atau sudah balik, “ katanya.

Kini, setelah pemerintah Indonesia mulai mengevakuasi semua warga Indonesia di Mesir, Gunawan mulai terbayang dengan keamanan barang-barangnya di sana. "Kalau semua dipulangkan, saya takut terjadi penjarahan barang-barang," ujarnya.

Ketakutan Gunawan memang beralasan. Sebab, ketika warungnya masih buka dan aksi demosntrasi sudah mulai membesar, upaya-upaya penjarahan memang terjadi. Tapi, para demonstran tidak menjadikan warungnya sebagai sasaran, tapi memlih swalayan yang menyediakan bahan makanan yang bisa disimpan.

Kini, Gunawan memang bisa merasa aman di kampung halamannya. Soal kerugian materiil yang mungkin dialaminya, ia tidak seberapa mempedulikan. "Saya bersyukur sudah selamat. Soal yang di sana, pasrah saja,” katanya yang ditemui sedang santap siang di warung lontong kupat Blora

Apalagi, nilai warung yang ditinggal di Kairo, kata Gunawan, tidaklah seberapa jika dibanding hasil yang diperoleh dari jualan penthol bakso. Sejak Agustus 2010 lalu, dia memulai bisnis itu dengan modal sekitar 2.500 USD. Jika dihitung penghasilannya selama sekitar 5 bulan ini, separuh modal itu sudah kembali. “Lumayanlah,” katanya tanpa merinci jumlah penghasilannya.

Memang, lanjut Gunawan, selama ini warung Bakso Gami’ terbilang ramai pengunung. Betapa tidak, hanya dalam waktu tiga bulan setelah berdiri, sudah ada orang yang menawar warung itu seharga 7.000 USD.

“Tapi biarlah. Yang penting saya selamat. Lagian, saya juga mulai bisa menikmati Yogya. Nikmat tinggal di sini,” katanya sambil menghabiskan ketupat di piringnya.  (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved