Awal Bekerja di Kamar Mayat, Hari Takut Lihat Jenazah
Pria tersebut ternyata pernah merasa takut melihat jenazah. Itu terjadi saat Hari mulai bekerja, 10 tahun silam. Pelan-pelan, rasa takut itu hilang.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Hari Santoso (41) sibuk memeriksa jenazah bayi berusia tiga bulan, Kamis (20/1/2011) siang. Bayi tersebut baru saja meninggal dunia.
Hari tak terlihat takut atau jijik. Maklum, dia adalah petugas Ruang Instalasi Kedokteran Forensik alias Kamar Mayat Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Sardjito Yogyakarta.
Tetapi siapa sangka, pria tersebut ternyata pernah merasa takut melihat jenazah. Itu terjadi saat Hari mulai bekerja di tempat tersebut, 10 tahun silam. Pelan-pelan, rasa takut itu hilang.
"Karena sudah biasa, jadi tidak ada rasa takut lagi," katanya kepada Tribun Jogja, di tempatnya bekerja, Kamis (20/1/2011).
Selain itu, perasaan takut tersebut juga sirna ketika Ia menganggap bahwa setiap jenazah yang ia tangani sama seperti dirinya, yaitu sesama makhluk ciptaan Tuhan.
"Hanya saja jenazah tersebut tidak bernafas sedangkan kita masih bernafas," ujarnya.
Selama menjadi petugas ruang jenazah, ia mengaku selalu memperlakukan setiap jenazah layaknya manusia hidup. Caranya, antara lain, saat memandikan maupun memegan jenazah dengan sikap hati-hati dan sopan.
"Saat menangani jenazah korban kecelakaan yang anggota badannya terpisah bahkan hancur pun saya menjahitnya dengan pelan-pelan," jelas pria yang mengaku asal Yogyakarta ini.
Hari menambahkan, pekerjaan paling susah dilakukan adalah saat menangani jenazah yang sudah membusuk. Karena, saat jenazah tersebut akan diangkat, tidak jarang dagingnya ikut terkelupas.
***
Perasaan takut pada awal-awal bekerja di kamar mayat dirasakan oleh pula Denta Kurniawan (25), yang baru 1,5 tahun bekerja di Ruang Instalasi Forensik RSUP Dokter Sardjito. Apalagi, saat tiga hari pertama bekerja ia harus menangani jenazah korban kecelakaan yang kepalanya pecah.
“Saya sempat grogi dan merasa iba melihatnya,” kata Denta.
Pernah juga ia harus menangani jenazah yang sudah membusuk akibat meninggal beberapa hari. “Baunya amis dan agak aneh,” kenang Denta.
Bahkan, lanjutnya, saat makan setelah dirinya selesai menangani jenazah tersebut, tiba-tiba bau aneh itu muncul dalam makanannya. Akhirnya, ia tidak menghabiskan makanan tersebut.
Denta mengaku membutuhkan waktu tiga bulan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan pekerjaannya itu, sekaligus menghilangkan rasa grogi saat menangani orang yang sudah meninggal.
Menurut Denta, selama bekerja sejak 1,5 tahun lalu ada pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Suatu ketika, katanya, ada kiriman jenazah manusia yang baru ditemukan setelah tiga hari meninggal.
“Ketika jenazah itu dimasukkan ruang forensik untuk diautopsi, tiba-tiba keluar belatung dari hidungnya. Setelah dibersihkan, tiba-tiba belatung muncul lagi dari mulut dan telinganya,” ujar Denta.
Berapa jenazah yang setiap hari ditangani Denta dan Hari? Rata-rata ada delapan jenazah yang masuk ruang instalasi forensik, "Karena rumah sakit ini merupakan tempat rujukan dari berbagai daerah," katanya.
Tidak jarang ia dan Hari menerima kiriman jenazah dari luar daerah, antara lain, dari Bali, Banten, Sumatera, dan Jawa Tengah.
Sedangkan selama ia bertugas, kiriman jenazah terbanyak adalah saat bencana erupsi Gunung Merapi, akhir 2010 lalu. Saat itu, kata Denta, tak hanya ruang autopsi yang penuh jenazah melainkan juga ruang-ruang sekitar, di antaranya ruang upacara dan ruang pendingin jenazah.