Travel

Curug Jurang Pulosari 'Surga' Tersembunyi di Bumi Projotamansari

Curug Jurang Pulosari 'Surga' Tersembunyi di Bumi Projotamansari. Obyek wisata ini terletak di perbatasan Desa Sendangsari dan Desa Triwidadi.

Curug Jurang Pulosari  'Surga' Tersembunyi di Bumi Projotamansari
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Wisatawan sedang menikmati keindahan air terjun Jurang Pulosari 

TRIBUNJOGJA.COM - Pariwisata di Kabupaten Bantul selalu menawarkan sejuta keindahan. Menakjubkan. Mulai dari indahnya laut di pantai selatan, gugusan bukit hingga wisata alam tersembunyi yang masih sangat alami.

Salah satunya adalah jurang Pulosari. Air terjun yang berada di antara perbatasan Desa Sendangsari dan Desa Triwidadi, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul ini menawarkan panorama keindahan alam yang mempesona. Tempatnya masih sangat asri. Udaranya segar alami dan Airnya biru jernih.

"Daya tarik wisatawan ke jurang Pulosari ini karena grojogannya [air yang jatuh] banyak. Tempatnya sidum [teduh] dan banyak tempat untuk istirahat," tutur Wasingah, pedagang makanan dan minuman yang sehari-hari berjualan di Jurang Pulosari.

Baca: Mencicipi Mie Ayam Rica-rica Porsi Jumbo di Sleman, Andalkan Rempah-rempah Tanpa MSG

Wasingah merupakan pedagang satu-satunya yang bisa dijumpai di kawasan wisata alam itu. Ia berusia 67 tahun dan sudah berjualan selama enam tahun.

Warung sebagai tempat berjualan Wasingah amat sederhana. Hanya bangunan semi permanen. Barang yang dijajakan pun seperlunya saja seperti sejumlah air mineral dan makanan ringan. 

Air terjun Jurang Pulosari
Air terjun Jurang Pulosari (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)

Sambil meracik kopi, Wasingah bercerita, pada hari-hari biasa jurang Pulosari memang sepi. Jarang sekali ada pengunjung yang datang. "Dari pagi sampai sore paling hanya sepuluh, dua puluh orang," tuturnya.

Lain lagi kalau hari libur, Sabtu dan Minggu. Pengunjung yang datang lumayan cukup banyak. "Seratusan orang," imbuh dia.

Kopi hitam pun disuguhkan. "Monggo," kata Wasingah, sambil menyerahkan segelas kopi.

Saya duduk di antara bilah-bilah tempat duduk bambu panjang. Persis berada di depan warung. Menghadap ke air terjun. Menikmati kopi di antara rindang pohon alam, begitu menyenangkan. Terlebih suara gemericik air jatuh di atas bebatuan. Hadirkan nuansa ketenangan.

Baca: Menakjubkan, Hotel Ini Sulap Bekas Lubang Tambang jadi Sangat Indah

Jurang Pulosari, sore itu, begitu sepi. Hanya ada tiga wisatawan.

Wasingah melanjutkan cerita, awal pertama kali dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 2013 silam, Jurang Pulosari cukup ramai oleh pengunjung. "Dari mana-mana banyak sekali, pada datang kesini. Dari luar negeri juga pada kesini," kata dia.

Pengunjung banyak, kala itu para pedagang pun banyak. Namun, lambat laun, air terjun setinggi sekitar 7 meter itu mulai sepi pengunjung. Para pedagang secara perlahan mulai meninggalkan. "Tinggal saya, satu-satunya yang masih bertahan," ungkap dia.

Baca: Bertambah Signifikan, Desa Wisata di Sleman Kini Berjumlah 47

Alasan mengapa air terjun Pulosari sepi pengunjung, Wasingah mengaku tidak tahu. Namun ia menduga penyebabnya karena jalan sebagai akses wisata menuju curug susah dijangkau sehingga pengunjung merasa kesulitan. Namun, lepas dari apapun penyebabnya, curug jurang Pulosari sangat indah. Masih alami nanasri.

Untuk sampai menuju lokasi, pengunjung memang harus berjalan kaki, sangat hati-hati, melewati sejumlah jalan bebatuan dan licin. Tapi tenang saja, perjuangan itu akan lunas terbayar dengan lokasi wisata yang sejuk dan pemandangan air yang jernih.

Melepas lelah, pengunjung bisa berenang, mandi atau bahkan bermain-main dibawah celah gemericik air. (tribunjogja)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved