Kulon Progo

3 Destana Baru di Kulon Progo Segera Dibentuk Tahun Ini

BPBD Kulon Progo memprioritaskan pembentukan sejumlah Destana pada wilayah selatan tahun ini.

3 Destana Baru di Kulon Progo Segera Dibentuk Tahun Ini
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kulonprogo 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo memprioritaskan pembentukan sejumlah desa tangguh bencana (Destana) pada wilayah selatan tahun ini.

Hal tersebut berkaca dari munculnya bencana tsunami di beberapa wilayah di Indonesia belakangan ini.

Ada tiga desa yang akan segera dicetak menjadi Destana dalam waktu dekat ini.

Yakni di wilayah Brosot, Galur, dan Panjatan yang geografisnya berada di pesisir pantai sehingga rawan tsunami maupun banjir.

Baca: 13 Langkah Flawless Make Up Look Flormar, Lengkap dengan Video Tutorial

Namun begitu, belum diketahui pasti desa mana saja yang akan dibentuk jadi Destana.

"Masih dianalisa bersama BPBD DIY. Kami berupaya memperkuat desa-desa di kawasan rawan tsunami karena sekarang cukup marak kejadian bencananya di Indonesia,"jelas Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kulon Progo, Hepy Eko Nugroho pada Tribunjogja.com, Jumat (11/1/2019).

Dari tiga Destana itu, menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo ambil bagian membentuk dua Destana baru sedangkan satu desa lainnya nanti dikukuhkan oleh Pemerintah DIY.

BPBD DIY juga segera mengembangkan tiga Destana yang sudah lebih dulu dibentuk menjadi tingkat Madya sesuai kapasitas masing-masing.

Baca: Kerja Sama Pemda, Masyarakat dan Dukungan Teknologi Menjadi Kunci Destana/Katana DIY

Kepala BPBD Kulon Progo, Ariadi mengatakan, rencana pembentukan tiga Destana baru menambah banyak jumlahnya yang saat ini ada 40 desa.

Ditargetkan nantinya ada 75 desa yang menjadi Destana pada 2020 sesuai RPJMD.

Hal itu menurutnya penting sebagai bagian dari upaya mitigasi dan penanggulangan bencana. Khususnya, pada wilayah rawan tsunami.

"Kami tidak tergesa-gesa merealisasikannya. Yang terpenting bagaimana mengembangkan Destana jadi lebih baik. Prosesnya tentu lama dan perlu berulangkali latihan supaya masyarakat terus mengingatnya," kata Ariadi.(*)

Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved