Sleman
BPBD Sleman Siap Pantau dan Ikuti Saran BPPTKG Terkait Kondisi Aktivitas Merapi
Hal itu terkait dengan munculnya guguran lava pijar sebanyak empat kali yang terjadi pada Jumat (23/11/2018) pekan lalu.
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengaku akan terus mengikuti apa yang disarankan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.
Hal itu terkait dengan munculnya guguran lava pijar sebanyak empat kali yang terjadi pada Jumat (23/11/2018) pekan lalu.
Joko Supriyanto selaku Kepala Pelaksana BPBD Sleman mengaku jika pihaknya telah siap dari segala aspek, untuk langkah antisipasi bila Merapi benar-benar erupsi.
"Kesiapan kita sudah semua. Masyarakat sudah kita latih bagaimana ketika terjadi letusan, barak pengungsian sudah siap. Tapi untuk langkah kita tetap mengacu pada BPPTKG. Apa yang disarankan itu yang kita gunakan. Karena yang tahu gunung BPPTKG," katanya pada Tribunjogja.com, Minggu (25/11/2018).
Berkenan dengan barak pengungsian, Joko menyebutkan setidaknya terdapat 39 lokasi yang tersebar di seputaran Merapi, yang meliputi kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi, Kalasan, Ngemplak.
Baca: Puncak Merapi Tak Terlihat Akibat Kabut, Warga di Klangon dan Balerante Beraktifitas Seperti Biasa
Baca: Info Merapi dari BPPTKG Yogyakarta, Sempat Terjadi Guguran Lava Merapi
"Titik pengungsian milik pemerintah yang dikelola BPBD ada 12. Satu barak bisa menampung 300 orang. Ada pula yang dikelola desa. Desa punya Barak sendiri. Jumlah keseluruhan kurang lebih ada 39 titik. Itu semua tersebar hampir di seputaran Merapi ada. Semua lingkaran ada titik pengungsian," terangnya.
Mengenai jalan-jalan yang sempat mengalami kerusakan, yang digunakan untuk jalur evakuasi, juga sudah dilakukan perbaikan semua.

Joko juga menerangkan jika masyarakat juga sudah dilatih saat menghadapi bencana, baik dilakukan dengan pemberian materi maupun gladi di lapangan.
Kelembagaan desa juga sudah disiapkan semuanya.
"Masyarakat sudah banyak latihan. Kita dilatih bagaimana penanganan ketika terjadi erupsi, baik pembelajaran, maupun di lapangan, sampai pembentukan kelembagaan di tingkat desa juga sudah. Jadi kalau ada bencana nanti siapa yang jadi koordinator lapangan, seksi pengurus logistik, seksi pengungsi sudah ada semua," katanya.
Baca: BREAKING NEWS : Waspada, Empat Kali Guguran Lava Merapi Mengarah Hulu Kali Gendol
Baca: Foto-foto Udara yang Belum Pernah Dipublikasikan, Saat Merapi Meletus Dahsyat 2010 Lalu
Tidak hanya itu, Joko juga menerangkan jika di Sleman sendiri setidaknya sudah memiliki 52 komunitas yang tergabung menjadi satu dalam FKKRS (Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman).
"Relawan, punya 52 komunitas yang digabung menjadi satu namanya FKKRS. Sehingga kalau kita menggerakkan relawan lewat forum FKKRS. Untuk logistik sudah sesuai dengan ketentuan. Untuk anggaran juga sesuai dengan anggaran tahun 2018, tidak bisa ditambah, " terangnya. (*)