Djaduk: Pemilik Event Jazz Di Indonesia Itu Rata-Rata Orang Gila
Tidak hanya Ngayogjazz yang mengalami hal kekurangan dana hingga merugi, bahkan event jazz lain juga mengalami hal serupa.
Penulis: Rizki Halim | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rizki Halim
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah diakui oleh dunia, memiliki event jazz tahunan terbanyak.
Setidaknya ada 40an lebih, event yang mengatasnamakan jazz digelar setiap tahunya di Indonesia.
Salah satu event yang masih terus mampu bertahan adalah Ngayogjazz, setidaknya Ngayogjazz sudah mampu bertahan hingga tahun ini yang merupakan tahun ke 11.
Namun ada fakta dibalik hingar bingar event jazz tahunan yang selalu digelar di desa-desa tersebut.
"Setiap kali gelaran Ngayogjazz pasti tombok, tidak pernah untung," ungkap Djaduk Ferianto, salah satu orang dibalik ide Ngayogjazz.
Gelaran Ngayogjazz memang gelaran yang gratis, bagi siapapun yang ingin menonton, selama 11 tahun perjalanan Ngayogjazz, tidak pernah sekalipun menarik biaya untuk menonton.
Maka tidak heran jika kemudian Ngayogjazz tidak pernah memberikan profit dan justru harus merugi.
Setiap tahunnya, panita selalu disibukan oleh masalah yang sama yaitu finansial dan budget produksi.
Ketika tribunjogja.com menanyai Djaduk mengapa masih mampu bertahan meskipun selalu rugi selama 11 tahun ini, jawabanya hanya satu, yaitu 'kegilaan'.
"Pemilik event jazz di Indonesia itu rata-rata orang gila, kalau sehat, tidak bakal bikin event jazz, haha," ucap Djaduk.
Tidak hanya Ngayogjazz yang mengalami hal kekurangan dana hingga merugi, bahkan event jazz lain juga mengalami hal serupa.
"Kemarin saya mengumpulkan para pembuat event jazz di seluruh Indonesia, dan kenyataanya memang rata-rata mereka tombok," lanjut seniman berambut panjang tersebut.
Hal terseut kemudian menjadi fakta tersendiri, bahwa dibalik gelaran acara jazz yang tampak megah dan mahal, ada harga mahal yang harus dikorbankan. (*)