Dirga, Gelandang yang Melambungkan Elang Jawa

Dirga yang memulai karir juniornya sejak 2000 ini merasa sangat betah berada di PSS Sleman dibawah asuhan Freddy Mulli.

Tayang:
Penulis: trs | Editor: Ari Nugroho
PSS-SLEMAN.CO.ID
Dirga Lasut 

TRIBUNJOGJA,COM, SLEMAN - Mulusnya pertandingan awal babak 16 besar Liga 2 2017 PSS Sleman dari tamunya Cilegon United kemarin Rabu (20/9/2017) tidak lepas dari peran seorang Mahadirga Maranando Lasut.

Pemain bernomor punggung 15 ini sempat menyumbangkan gol ciamik pada menit terakhir pada babak pertama pertandingan.

Berkat free kick indah gelandang Mahadirga Lasut di menit ke-45 inilah yang melambungkan tim Super Elang Jawa ke puncak klasemen sementara Grup A.

Dirga mengatakan, tidak ada ritual khusus dirinya setiap akan memulai pertandingan atau turun ke lapangan.

Ia hanya berdoa kepada Yang Kuasa agar dipersiapkan terhadap apapun yang terjadi.

"Tidak ada ritual yang aneh-aneh, gak ada semedi di gunung seperti itu, hanya berdoa biasa saja," ucapnya tertawa, jUMAT (22/9/2017).

Di dalam doanya tersebut Dirga mengutarakan tidak meminta kemenangan, menang dan kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal yang biasa, hanya saja bagaimana kita menyikapinya.

Baca: Ini Strategi Pelatih PSS Sleman untuk Raih Kemenangan

"Tidak meminta menang, hanya minta di jauhkan dari marabahaya, dan dipersiapkan apapun yang terjadi, jadi kalah atau menang tetap saya terima. Kalau kalah tidak terima bagaimana, masa kita mau mengeluh sama Tuhan, tidak baik itu. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik." ucap pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara ini.

Dirga yang memulai karir juniornya sejak 2000 ini merasa sangat betah berada di PSS Sleman dibawah asuhan Freddy Mulli.

Hal tersebut dikarenakan PSS Sleman adalah tim yang besar dan bagus, mulai dari manajemennya hingga orang-orang yang ramah.

"Siapa saja pelatihnya kita ikuti, jadi semuanya cocok. Disini juga kalau mau cari makan semuanya ada, mau pergi kesana-kesini juga dekat," jelasnya.

Namun, yang membuat Dirga semakin betah di PSS Sleman karena adanya tempat untuk Dirga memenuhi kebutuhan rohaninya, yaitu Gereja.

Ia merasa percuma saja apabila berada di klub besar tetapi hanya bisa memenuhi kebutuhan jasmani saja.

"Bermain bola itu kebutuhan jasmani saya, dan kebutuhan rohani pun dapat saya penuhi dengan adanya Gereja disini. Sia-sia hidup kita kalau tidak diimbangi dengan berdoa. Apabila kita mati, karir selesai," kata Dirga.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved