Plengkung Kraton Ngayogyakarta

Tak Banyak Diketahui, Kraton Ngayogyakarta Miliki Jembatan Gantung di Setiap Plengkung

Tak hanya Plengkung saja yang berubah, bahkan parit atau jagang yang menjadi pertahanan keraton juga sudah tak ada jejaknya.

Penulis: say | Editor: oda
BPCB DIY/Oudheidkundige Dienst C. 1935.
Kondisi Plengkung Tarunasura atau Wijilan tahun 1935. 

TRIBUNJOGJA.COM - Gerbang Keraton Ngayogyakarta atau disebut Plengkung menjadi khasanah tersendiri bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun karena berbagai faktor, maka beberapa pintu utama menuju kerajaan itu sudah berubah bentuknya.

Dari lima Plengkung yang ada, hanya dua saja yang bentuknya masih asli, yakni Tarunasura atau Wijilan dan Nirbaya atau Gading. Sedangkan yang lain, bentuknya sudah tak lagi melengkung, sehingga orang menganggapnya bangunan biasa.

Struktur bangunan Plengkung terbilang kokoh karena batu bata dipasang menggunakan model rolak atau berdiri. Dengan model demikian, maka bangunan memiliki tekanan yang kuat, berbeda bila dipasang secara horizontal.

Adapun material yang digunakan yakni gamping, semen merah dan pasir. Namun karena faktor alam dan kebijakan, maka beberapa plengkung diubah bentuknya.

Tak hanya Plengkung saja yang berubah, bahkan parit atau jagang yang menjadi pertahanan keraton juga sudah tak ada jejaknya.

Ign Eka Hadiyanta, Kepala Unit Kerja Dokumentasi Publikasi Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menjelaskan pada Tribunjogja.com, parit itu mengelilingi benteng Kraton sebagai pertahanan dari serangan musuh. Lebarnya sekitar 10 meter dengan kedalaman tiga meter.

Namun karena berbagai perubahan, parit itu kini telah menjadi jalan. Bahkan pada tahun 1935, parit itu sudah hilang.

Tak diketahui secara pasti, kapan jagang mulai dialihfungsikan.

Yang juga belum banyak diketahui orang, dulu di depan setiap Plengkung terdapat jembatan gantung. Jembatan itu dapat ditarik menjadi pintu pelapis Plengkung ketika musuh datang.

Namun lagi-lagi, jembatan gantung itu juga sudah hilang termakan zaman.

Terkait dengan Plengkung, sebenarnya Kraton Ngayogyakarta juga mempunyai beberapa pintu gerbang yang tidak resmi. Beberapa di antaranya di jalan menuju ke Nagan, gang di Pugeran, kampung Panembahan, daerah Kauman dan beberapa yang lain.

Namun karena kecil, maka itu bukan menjadi akses utama menuju Kraton pada zamannya.

Saat ini, BPCB menugaskan juru pelihara untuk merawat Plengkung yang ada. Selain itu, pemerintah juga memasang CCTV di Plengkung yang rawan kejahatan, yakni Gading untuk menghindari hal-hal buruk terjadi.

"Saat ini kan jalan menuju Kraton banyak sekali. Saya berharap kalau bisa difokuskan saja lewat lima gerbang itu. Terus paritnya dibuat lagi di titik yang memungkinkan karena itu simbol kekuatan Kraton," urai Eka. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved