Kekerasan Pilkada Paling Banyak Terjadi di Papua
Dari 11 provinsi yang diamati, hasil pengukuran EHI menunjukkan bahwa pada periode kedua, kekerasan Pilkada paling banyak terjadi di Papua.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIHUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dua peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Dr M Zulfan Tadjoeddin dan Dr Samsu Rizal Panggabean menunjukkan bahwa kekerasan yang terjadi di sana sebenarnya bukan disebabkan oleh persoalan budaya.
Temuan tersebut dipaparkan dalam seminar tentang fenomena kekerasan Pilkada di Papua, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM dan Institute of International Studies, di Ruang Seminar Timur Fisipol UGM, Senin (18/4/2016).
“Terjadi perbedaan perilaku elektoral oleh masyarakat atau aktor pemilihan, antara pemilu nasional dan pemilu daerah. Secara signifikan terdapat lebih banyak konflik dan kekerasan dalam Pilkada dibandingkan dengan pemilu nasional,” ujar Tadjoeddin mengawali pemaparannya.
Pada 2012, Tajoeddin yang mengajar di University of Western Sidney, Australia, memperkenalkan EHI sebagai standar untuk mengukur tingkat kekerasan dalam proses pemilu di tingkat daerah.
Dari 11 provinsi di Indonesia yang ia amati, yaitu daerah-daerah yang dikategorikan sebagai wilayah tinggi konflik, hasil pengukuran EHI menunjukkan bahwa pada periode kedua, kekerasan Pilkada paling banyak terjadi di Papua.
"Tingkat kemiskinan dan sejarah konflik di masa laluberpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya kekerasan Pilkada di Papua," bebernya. (tribunjogja.com)