TribunJogja/

Benarkah Gaji Dokter Tak Sebanding dengan Biaya Kuliahnya?

Dokter umun yang bekerja di klinik kesehatan hanya bergaji sekitar Rp3,5 juta

Benarkah Gaji Dokter Tak Sebanding dengan Biaya Kuliahnya?
gapmedics.co.uk
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Pristiqa Ayun Wirastami

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjadi seorang dokter mungkin menjadi impian banyak orang. Namun, seiring pertumbuhan penduduk yang meningkat signifikan dibarengi dengan jumlah dokter yang juga semakin meningkat. Hal ini perlu disikapi dengan mengambil langkah menciptakan peluang usaha lain.

dr. Gideon Hartono selaku pendiri klinik K-24 mengatakan setiap tahunnya ada 6 ribu dokter muda yang lulus dari perguruan tinggi. Sebagian besar dari lulusan tersebut disebar paling banyak di Bali dan Jawa. Sehingga dokter-doktet di wilayah tersebut harus memiliki kreativitas lain untuk berkarya dan pandai melihat peluang.

"Dengan semakin banyaknya jumlah dokter, maka semakin banyak pula yang ingin menjadi dokter spesialis. Dan tentu saja, peminat dokter umum semakin sedikit," kata dr. Gideon saat mengisi seminat Doctor Enteurprener di Hi-Lab Yogyakarta, Sabtu (20/12/2014).

Padahal, lanjutnya, lulusan dokter dari seluruh universitas di Indonesia tak lebih dari 2 ribu yang akan terserap untuk menjadi dokter spesialis. Dan ironisnya, dokter umun yang bekerja di klinik kesehatan hanya bergaji sekitar Rp3,5 juta. Tentunya jumlah gaji yang diterima ini tak sebanding dengan biaya kuliah yang telah mereka keluarkan.

"Oleh karena itu, saya mendorong para dokter umum untuk lebih kreatif dan berani melihat peluang usaha. Menjadi seorang wirausahawan tak mengenal usia dan pekerjaan sebelumnya. Yang diperlukan hanya niat dan kemauan," ujar dr. Gideon.

Ia pun berharap ke depannya penghasilan dokter umum bisa mencapai Rp7 juta hingga Rp20 juta setiap bulannya. Oleh karena itu, tak hanya menjual jasa, seorang dokter harus berani ikut terlibat di health industry.

Sementara menurut dr Reza Yuridian Purwoko, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin mengatakan salah satu bidang kedokteran yang saat ini berkembang pesat dan mendatangkan peluang bisnis yang besar adalah bidang kedokteran estetika. Menurutnya, selain dokter spesialis kulit, bidang estetis juga dipelajari oleh dokter spesialis bedah plastik, dokter gigi orthodontis, dokter ahli gizi, dan lain-lain.

"Perkembangan yang kian pesat di bidang produk atau alat untuk terapi kedokteran kecantikan juga harus mulai diperlajari oleh para dokter umum. Agar ilmu mereka pun semakin bertambah," kata dr. Reza.

Menurut aturan standar pelayanan medik di Klinik Estetika Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Departemen Kesehatan RI Tahun 2007, saat ini seorang dokter umum dapat mendirikan dan menjadi penanggung jawab di sebuah klinik kecantikan tipe pratama. Di klinik pratama, dokter umum bisa menangani kasus ringan seperti perawatan kulit.

"Namun jika ada kesulitan dalam menangani sebuah kasus, dokter umum tersebut bisa memberikan rujukan bagi klien ke klinik utama dengan penanggung jawab dokter spesialis kulit," ujarnya.

Hal ini, kata dr. Reza, juga bisa menjadi ajang bagi para dokter umum untuk memperluas pengetahuan mereka. Sehingga berpeluang membuka bisnis di luar tugasnya menjadi dokter umum. (*)

Tags
Dokter
Penulis: tiq
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help