TribunJogja/

Ini Pengakuan Mantan Pelaku Klitih di Yogya

Biasanya mereka mencari pelajar sekolah lain yang dianggap sebagai musuhnya

Ini Pengakuan Mantan Pelaku Klitih di Yogya
KOMPAS/F INDRA RIATMOKO
Ilustrasi tawuran

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akhir-akhir ini istilah nglitih/klitih kerap terlontar di berbagai obrolan yang membahas kenakalan remaja. Nglitih/klitih merupakan Bahasa Jawa yang berarti lebih kurang mencari kesibukan di saat senggang.

Sementara Nglitih/klitih dalam konteks kenakalan remaja adalah berkeliling menggunakan kendaraan yang dilakukan sekelompok oknum kelompok pelajar. Biasanya mereka mencari pelajar sekolah lain yang dianggap sebagai musuh. Bisa juga klitih diasumsikan putar-putar kota kemudian melakukan aksi vandalisme menggunakan cat semprot.

Pertengahan Agustus lalu, Tribun Jogja berkesempatan ngobrol lebih jauh dengan mantan pelaku klitih di Yogya. Cembre, begitu pria 28 tahun ini akrab disapa. Dia adalah lulusan satu SMA di Kota Yogya tahun 2004.

Menurutnya, Klitih sudah lama dilakukan oleh oknum pelajar di Yogya. Biasanya mereka tergabung dalam geng yang mengatasnamakan solidaritas satu sekolah. 

Saat masih sekolah, dia bersama teman-temannya kerap putar-putar kota saat jam berangkat dan pulang sekolah. Menunggu di ruas jalan yang biasanya dilalui sasaran, yakni pelajar sekolah lain.
Begitu mendapati target dengan mengidentifikasi dari bat seragam, dilancarkanlah aksi kekerasan itu. "Langsung disikat tanpa pandang bulu dia (target) terlibat permusuhan atau tidak," kata Cembre. (*)

Tags
Klitih
Penulis: hdy
Editor: hdy
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help