Ramadan 2014

Ini Sejarah Berdirinya Masjid Pathok Negoro Dongkelan

Pada saat itu masjid yang berada di wilyah Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini menyerupai bangunan masjid Gede Kauman

Ini Sejarah Berdirinya Masjid Pathok Negoro Dongkelan
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Masjid Pathok Negoro Dongkelan yang terletak Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pernah dibakar Belanda pada masa perang Diponegoro. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Masjid Pathok Negara Dongkelan didirikan pada tahun 1775, bersamaan dengan dibangunnya serambi Masjid Gedhe Kauman. Pendirian masjid ini merupakan penghormatan terhadap Kyai Sayihabuddin atau Syeh Abuddin atas jasa-jasanya terhadap Sultan Hamengkubuwono I ketika berkonflik dengan Raden Mas Said atau Sri Mangkunegara yang berjuluk Pangeran Sambernyawa.

Pada saat Sultan Hamengkububowono I menduduki tahta kerajaan, beliau merasa terganggu dengan naik tahtanya Pangeran Sambernyawa dengan gelar KGPAA Mangkunegara I yang merupakan menantunya sendiri.

Sultan ingin mengalahkan menantunya tersebut tetapi tanpa merasa membunuhnya, maka Sultan Hamengkubuwono meminta bantuan Kyai Syihabudin dan menjanjikan posisi patih kepada Kyai Syihabuddin jika mampu mengalahkan Pangeran Sambernyawa.

Kyai Syihabuddin mampu menyelesaikan konflik antara Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Sambernyowo tanpa melukai pangeran Sambernyowo. Tetapi Sultan Hamengkubuwono I tidak bisa memenuhi janjinya untuk menjadikan Kyai Syihabuddin menjadi patih karena pada saat itu posisi tersebut telah ditempati Tumenggung Yudanegara.

Kemudian Kyai Syihabuddin diangkat menjadi penghulu keraton yang pertama, tetapi beliau menjabat tidak lama karena kecewa terhadap Sultan Hamengkubuwono I. Karena kekecawaanya tersebut Kyai Syihabuddin mendapat julukan Kyai Dongkol (kecewa). Karena perubahan ucapan, nama Kyai Dongkol berubah menjadi Kyai Dongkel, kemudain tempat tinggal beliau disebut Dongkelan.

Dijelaskan oleh Muhammad Burhanudin, selaku Abdi Dalem Masjid Pathok Negara Dongkelan, Kyai Syihabuddin adalah orang yang yang ahli fiqih, oleh karena itu oleh Sultan Hamengkubuwono I beliau diangkat menjadi pajabat Pathok Negoro.

“Karena diangkat menjadi pejabat Pathok Negoro, maka beliau dibuatkan masjid Pathok Negoro. Sebelumnya Kyai Syihabuddinn bertempat tinggal di timur sungai Winongo, tetapi sarat pembanngunan masjid Pathok Negara tidak boleh sejajar dengan keraton, maka beliau pindah ke barat sungai Winongo,” terang Burhanudin.

Pada saat itu masjid yang berada di wilyah Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini menyerupai bangunan masjid Gede Kauman. Terdapat kolam di halaman masjid, kuburan yang terletak di barat masjid, beduk, beserta perangkat pegawai yang bertugas mengurusi masjid.

Dijelaskan oleh Burhanudin, masjid Pathok Negara Dongkelan pernah dibakar habis oleh pihak Belanda semasa perang Diponegoro pada tahun 1825. “Pada saat itu yang tersisa hanya batu penyangga tiang masjid (umpak),” terang Burhanudin. Setelah dibakar, masjid tersebut dibangunn kemabali dengan sanagat sederhana. Atap masjid hanya terbuat dari ijuk dengan mustaka dari tanah liat.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, masjid tersebut dibangun kembali pada tahun 1901. Bentuk bangunan masjid dibuat seperti semula. Kemudian pada tahun 1948 dilakukan pembangunan serambi masjid. (Tribunjogja.com)

Tags
Masjid
Penulis: mim
Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved