TribunJogja/

Waspada, Penipuan Online di DIY Marak

Direktur Kriminal Khusus Kepolisian Daerah DIY Kombes Pol Kokot Indarto merinci, cyber crime pada 2012 sebanyak 145 kasus

Waspada, Penipuan Online di DIY Marak
SHUTTERSTOCK
ilustrasi

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ekasanti Anugraheni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus kejahatan dunia maya (cyber crime) di DIY melonjak drastis selama tiga tahun terakhir. Maraknya penipuan dipicu kesadaran masyarakat terhadap keamanan penggunaan internet dan media sosial masih rendah.

Direktur Kriminal Khusus Kepolisian Daerah DIY Kombes Pol Kokot Indarto merinci, cyber crime pada 2012 sebanyak 145 kasus. Pada 2013, kejahatan dunia maya melonjak dua kali lipat menjadi 308 kasus. Sedangkan pada triwulan kedua 2014 atau Januari hingga Mei, kasus yang terdata sudah mencapai 147.

"Ada kenaikan signifikan sejalan dengan kenaikan penggunaan gadget. Eskalasinya terhitung tinggi, tidak sepadan dengan kesadaran jual beli dan pergaulan di dunia maya. Mentalnya belum siap. Banyak sekali yang kena kasus penipuan dan lain sebagainya," papar Kombes Pol Kokot Indarto dalam Focus Group Discussion antisipasi cyber crime bersama Lembaga Ketahanan Nasional di Kepatihan, Rabu (25/6).

Bentuk cyber crime yang muncul beragam. Beberapa contoh kasus yang pernah ditangani Polda DIY antara lain kasus penipuan berkedok undian berhadiah mobil melalui SMS dengan kerugian hampir Rp1 miliar. Kasus lain misalnya pembelian di tokobagus.com tapi barangnya tidak dikirim. Ada juga kejahatan dengan mengunggah foto porno pacar di akun Facebook ataupun penipuan transaksi produk kerajinan dengan pembeli asing. Kasus kejahatan dunia maya paling banyak di Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.

"Warga jangan cepat-cepat mentrasfer uang. Lihat dulu barangnya. Kalau melalui online gini kan prinsip jual beli ditabrak. Banyak yang kejebak di situ," ungkap Kokot.

Minimnya kesadaran pengguna gadget terkait keamanan menggunakan media sosial dibenarkan Direktur Rootbrain Network and Security Training and Consulting, Josua M Sinambela. Mereka acap menampilkan identitas rinci berikut keberadaan dirinya dimanapun. Padahal, hal semacam itu rentan dimanfaatkan pelaku kriminal. Potensi penculikan, cyber bullying, pedhophilia sering berawal dari situ.

"Orang awam itu sering tidak sadar risiko ketidakamanan dunia maya. Hati-hati dengan foto anak dan identitas. Itu yang jadi sasaran kriminal dan pedhopilia, misalnya. Termasuk jika ada info pribadi yang di-posting oleh orang lain," kata Josua. (Tribunjogja.com)

Tags
Cyber
Penulis: esa
Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help