Ramadan 1434 H
Tajil Bubur India Berumur Ratusan Tahun
Di kampung Petolongan, Purwodinatan, Semarang, tradisi pembuatan tajil bubur india selama ratusan tahun masih bertahan
Penulis: bbb | Editor: Mona Kriesdinar

Laporan Reporter Tribun Jogja, Bhakti Buwono
TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Di sebuah sudut kampung Petolongan, Purwodinatan, Semarang Tengah, tradisi pembuatan tajil bubur india selama ratusan tahun masih bertahan. Bubur dengan rasa gurih dan berasa seperti gulai itu bisa ditemui sepanjang ramadhan di masjid Jami' Pekojan. Mulai pukul 16.30, bubur, kurma, susu, kopi dan air zam zam tersedia untuk para pencari tajil.
Kemarin, Kamis (11/7) sore, tampak sejumlah anak-anak melihat proses pembuatan bubur india. Meskipun baju mereka basah karen sebelumnya hujan-hujanan, mereka setia menanti bubur india dengan tempat makan di tangan mereka. Bubur India selalu dimasak dengan dua panci tembaga berukuran besar.
"Saya ambilin buat temen saya, tadi titip," kata Laila usai mengantre bubur india dengan membawa tempat makan berbentuk ember kecil.
Pengurus masjid, Mat Soim berkisah, tradisi itu sudah ratusan tahun lalu. Saat pedagang dari Gujarat (India) datang ke Semarang, mereka mendirikan pemukiman muslim. Tidak hanya itu, para orang india pun mendirikan masjid.
Berawal dari itulah, bubur india dikenal. Tradisi dari india dibawa dan dikenalkan ke masyarakat pribumi saat itu. Lalu diwariskan ke pengurus masjid. Semenjak itulah, tradisi itu tidak pernah luntur hingga sekarang.
"Dandang (panci besar) tembaga yang ratusan tahun sudah rusak, mulai tahun ini diganti yang baru," ujar Mat Soim.
Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain, beras (minimal 14 Kilogram dan maksimal 20 Kg), Kelapa sesuai hitungan beras (jik 14 KG maka 14 butir), bawang merah, bawang putih, onclang, serai, jahe, kayu manis, hingga penyedap rasa.
Proses pembuatan dimulai pukul 12.30, dan baru selesai pukul 14.30. Butuh beberapa orang untuk gantian mengaduk tungku besar. Hingga akhirnya matang, 150 mangkuk bubur siap disantap para pencari tajil.
Takmir masjid Jami' Pekojan, Ali Baharun mengatakan, membatalkan puasa dengan bubur india menurutnya sangat cocok dengan perut. Setelah seharian berpuasa, bubur yang lembut sesuai dengan pencernaan.
"Yang pasti, ini juga bagian dari syiar islam melalu tajil," jelasnya.(*)