Ungkapkan Cintamu untuk Negeri
Satu pekan lagi, tepatnya 17 Agustus 2012, kita memperingati Hari Ulang Tahun Ke-67 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Banyak cara untuk mengungkapkan semangat kebangsaan. Komunitas Arbanat String Ansamble asal Kota Malang, misalnya. Komunitas yang hampir semuanya mahasiswa ini melakukan roadshow Simfoni Cinta Tanah Air ke beberapa SD di Kota Malang pada 8-10 Agustus 2012.
Mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan lagu dolanan di hadapan para siswa sekolah dasar. Seperti pada Kamis (9/8/2012) lalu, mereka menggelar ”konser mini” di hadapan 40-an siswa SD Sriwedari di Jalan Bogor, Kota Malang.
Sebanyak 15 lagu wajib kebangsaan, seperti ”Hari Merdeka”, ”Bangun Pemudi Pemuda”, dan ”Indonesia Pusaka”, dilantunkan secara maraton bergantian dengan pembacaan puisi oleh para siswa kelas I-VI tersebut. Siswa diajak bernyanyi bersama-sama. Berikutnya, siswa dihibur dengan cerita soal Pandawa oleh tim Arbanat String Ansambel yang berjumlah lebih kurang sembilan orang.
”Ini bentuk sumbangsih kami untuk bangsa. Dengan mengajak siswa menyanyikan lagu kebangsaan ini, kami berharap sejak dini anak-anak bangsa ini sudah tertanam jiwa kebangsaannya. Sebab, kalau sudah remaja dan dewasa seperti saya ini sudah susah diajak bicara kebangsaan,” tutur Vania Wibisono (24), mahasiswa Universitas Ma Chung, Malang.
Saat sudah menginjak usia remaja, biasanya anak-anak muda sudah mulai terkontaminasi berbagai budaya dari luar. ”Bahkan, ironisnya mereka lebih mengagungkan budaya luar daripada budaya sendiri,” tutur mahasiswa Jurusan Sastra Inggris tersebut.
Bersama Claudia (mahasiswa jurusan teknik Universitas Ma Chung) dan Puput (mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya) setiap tahun mereka selalu melakukan konser kebangsaan. ”Setiap saat saya selalu menyempatkan hadir dan memperdengarkan lagu-lagu kebangsaan ini. Ini satu hal kecil yang saya mampu persembahkan untuk negeri ini,” ujar Vania.
Ugik, ketua komunitas Arbanat String Ansamble, menuturkan, komunitasnya memang selalu menggelar Simfoni Cinta Tanah Air dari sekolah ke sekolah. ”Ini berangkat dari kegelisahan kami bahwa anak-anak zaman sekarang lebih kenal lagu-lagu masa kini daripada lagu kebangsaan. Kalau generasi penerus saja sudah tidak akrab atau tidak kenal dengan lagu-lagu kebangsaan sendiri, apa masih bisa diharapkan rasa nasionalisme mereka bisa dipertahankan ke depannya,” ujar Ugik.
Sekolah-sekolah yang dituju Arbanat String Ansamble, menurut Ugik, diharapkan berbeda-beda dari tahun ke tahun. Harapannya, semangat kebangsaan yang diusung komunitas yang muncul tahun 2000 ini bisa menyebar luas ke seluruh Malang Raya.
Ugik mengatakan, biasanya anggota Arbanat String Ansamble yang masih pelajar ikut dalam roadshow tersebut. Namun, karena saat ini mereka tidak bisa meninggalkan sekolahnya, konser mini diisi oleh para mahasiswa.
Kegiatan seperti mereka ini patut ditiru lho MuDAers supaya generasi muda juga tidak melupakan lagu-lagu perjuangan bangsanya sendiri.
Upacara bendera
MuDAers pun tentu sudah biasa secara rutin, setiap tahun mengikuti peringatan kemerdekaan itu dengan upacara bendera dan yang tak terlewatkan adalah pembacaan ”Detik-detik Proklamasi”. Menyanyikan lagu ”Indonesia Raya” pun menjadi kewajiban, mengiringi pengibaran bendera Merah Putih.
Bagaimana semestinya dengan peringatan Hari Kemerdekaan? Upacara mengenang jasa para pahlawan, penghormatan kepada sang Merah Putih, lagu ”Indonesia Raya”, dan penghayatan serta pengejawantahan Pancasila apakah itu masih perlu dilakukan di masa sekarang?
”Hari Kemerdekaan patut diperingati, apalagi cuma setahun sekali. Dari upacara itu sekaligus kita ingin menghormati jasa para pahlawan sebab mereka telah berjuang mati-matian dan sekarang kita tinggal menikmati kemerdekaan itu,” kata Michael Loverian Mone (17), siswa SMA Negeri 1, di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Setiap Senin, pukul 07.00 Wita, SMA Negeri 1 Ende rutin menggelar upacara bendera.
Michael mengaku, sejarah kemerdekaan yang paling diingatnya ketika kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, dibom. Pemuda Indonesia langsung berinisiatif dan menculik Bung Karno dan Bung Hatta dari kediaman mereka untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dia mengetahui cerita itu dari buku mata pelajaran Kewarganegaraan.
Abraham Sylvester (18), siswa SMA Katolik Syuradikara Ende, mengungkapkan, sekolahnya hanya menggelar upacara bendera pada hari-hari besar, termasuk setiap 17 Agustus. ”Sebagai pelajar, upacara bendera bagi saya penting. Hal itu supaya kita tidak lupa dengan identitas bangsa kita, di antaranya dari lagu ’Indonesia Raya’ yang selalu dinyanyikan waktu upacara,” ujarnya.