Arca Ngreco
70 Arca Sudah Berpindah Tangan
Di Dusun Ngreco Desa Kesanga Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah belum lama ini ditemukan arca
Penulis: bbb |
TIGA tahun silam, sekitar 2009, Alif menikah dengan Rabiqah, warga Dusun Sejambu yang berbatasan dengan Ngreco. Awalnya, ia mencari tahu nama desa tempat tinggal barunya itu, mengapa bisa bernama Kesanga? Ternyata, setelah ia telusuri, di desa itu ada sumber mata air yang bernama Tuk Songo. Dari situlah nama Desa Kesanga berasal.
Pada pertengahan Maret lalu, rasa penasarannya akan nama Dusun Ngreco membuncah. Apalagi ia melihat semacam yoni (simbol alat kelamin pria) di bukit sekitar Ngreco, dan batu yang diperkirakan dari masa lampau di seputar rumahnya, di Sejambu. Mulailah ia berkeliling menemui tetua-tetua desa untuk bertanya asal-usul nama Dusun Ngreco.
Cerita awal yang ia dapat adalah, pada zaman dahulu kala dusun sekitar merupakan tempat perajin arca. Tetapi Alif tidak percaya begitu saja. "Sekarang mana sisa-sisa perajinnya? Tidak ada sama sekali," kata Alif, di teras rumahnya, baru-baru ini.
Pria yang bekerja wiraswasta ini kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan di perbukitan daerah tersebut. Lalu, warga memberitahu ada batu bata besar di suatu daerah. Karena penasaran, Alif pun mencarinya, dan berhasil menemukan di lokasi yang dimaksud setelah menggali tanah sekitar semeter. Batu bata ukuran besar pun ia temukan. Ada juga yang berelief. Tetapi ia kurang tahu apakah penemuan itu dari zaman Hindu, Budha atau kolonial Belanda.
Perbincangannya dengan tetangga pun menghasilkan hal di luar dugaan. Ternyata ada warga bernama Siswanto yang menyimpan arca semacam Ganesha di rumahnya. Tidak hanya Siswanto penemu arcanya, tetapi juga dua warga lain, yaitu Muslih dan Ngatijan. Ketiganya juga menemukan mata uang dari berbagai zaman, ada yang berukirkan tahun 1500-an, semacam liontin, garpu seperti zaman kolonial maupun artefak lain.
Data yang ia kumpulkan menyebutkan, penemuan tersebut sudah dimulai sekitar tahun 2002. Saat itu masih banyak arca di perbukitan. Bentuknya gajah kecil dan besar berjejer. Namun, semakin lama semakin berkurang karena diambil warga dari luar maupun warga sekitar. Ada yang minta izin dahulu, dan ada yang tidak. Diperkirakan ada sekitar 70 arca yang hilang.
"Hal yang membuat saya heran adalah kenapa mereka tidak melaporkan ke pihak terkait? Sampai sekarang tidak ada kabarnya," tutur bapak satu anak berusia dua tahun ini.
Rasa heran dan penasaran memicu Alif untuk melapor ke pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Semarang, 26 Maret 2012 lalu. Hasilnya tidak sia-sia, pihak Disbudpar langsung menghubungi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah di Prambanan, yang petugasnya kemudian datang ke lokasi, Rabu (4/4) lalu. Mereka mengambil beberapa sampel untuk diteliti.
Kadus Ngreco, Ujang Muztahid, membenarkan bahwa penemuan itu sebenarnya sudah lama. Tetapi, karena ketidaktahuan warga, mereka menganggapnya biasa. Kalaupun benar di wilayahnya merupakan bekas situs penting pada masa lalu, pihaknya menyambut baik kabar gembira itu. Selian nama dusun Ngreco bisa terangkat, pihaknya bisa juga turut melestarikan kekayaan bangsa. "Yah, nguri-nguri sejarahlah," ucapnya, kemudian tersenyum.
Kepala Bidang Pelestarian BP3 Jateng, Guntomo, saat dihubungi, Jumat (6/4), mengatakan masih meneliti beberapa sampel yang dibawa dari Ngreco. Beberapa sampel yang diteliti bukan berasal dari zaman kuno, antara lain kancing logam, benda silinder mirip liontin yang aslinya berupa pengikat kain, dan arca yang tidak begitu kuno. Adapun benda-benda lain dan data lapangan hingga sekarang masih dalam tahap penelitian. "Belum ada kesimpulan," katanya. (www.tribunjogja.com)