Mugiyono Kasido Melanglang Buana Berkat Menari di dalam Kaus
Tribun Jogja - Senin, 2 April 2012 14:42 WIB
Ikrob Didik Irawan
Mugiyono Kasido mengajarkan keterampilan menari dalam kaos di acara car free day di Solo, Jawa Tengah
Berita Terkait
- Tiga Puluh Tahun Subandi Setia Membuat Keris
- Bambang Pilih Berdiri dari Solo Hingga Yogyakarta
- Hangabehi Naik Kereta Peninggalan Paku Buwono XI
- Makanan "Tulang Monyet" Kreasi Warga Solo
- Bagas Membayangkan Sedang Terbangkan Sukhoi
- Sersan Andy Belajar Membuat E-mail
- Babe Berencana Memberi Nama Suroningtyas
- VDS Solo Ingin Membantu Masyarakat Miskin
- Taman Balekambang Jadi Ajang Mesum
- Elisa Baru Tiga Hari di Solo Menemui Sang Pacar
Seorang penari di Kota Solo, Jateng, menggunakan kaus oblong sebagai
media menari. Dialah Mugiyono Kasido (36). Berkat keunikannya, Mugiyono
berhasil pentas menari berkeliling dunia. Ia pun pamer kebolehan,
Minggu (1/4) pagi.
SUASANA ruas jalan Slamet Riyadi, tepatnya depan toko Buku Gramedia Solo, terlihat ramai, Minggu (1/4) pagi. Mereka menyaksikan keahlian Mugiyono melakukan gerakan tari dalam kaos. Pria kelahiran Jogodayoh, Kabupaten Klaten mengawali gerakannya dengan teknik secara cepat memasukkan dua tangan ke dalam kaus, sehingga kelihatan seperti orang buntung.
"Menari biasanya butuh kostum. Tapi, bagi saya, cukup menggunakan kaus oblong sebagai medianya," kata Mugiyono.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba tangan yang ada di dalam kaus itu muncul kembali di kedua lengan kaus. Namun hanya sebagian tangan saja yang keluar. Mugiyono lantas duduk jongkok, dan memasukkan dua kakinya ke dalam kaus. Ia lalu berjalan sehingga mirip orang cebol. Menurut pria jebolan Institut Seni Indonesia ISI Solo (dahulu Sekolah Tinggi Seni Indonesia atau STSI) Jurusan Seni Tari tersebut, menari di dalam kaus juga bisa dipadukan dengan gerakan-gerakan tari Jawa, Bali, atau tari dari daerah lain di Indonesia. Seluruh gerakan yang ada pada tari kaus juga bukan sembarangan melainkan memiliki makna.
Mugiyono mengisahkan, pada benaknya mulai terlintas membuat menari di dalam kaus sekitar tahun 1998. Saat itu ia sedang asyik nongkrong di wedangan atau angkringan bersama teman-temannya. Karena cuaca malam hari cukup dingin, seorang temannya memasukkan kaki dan tangannya ke dalam kaus agar hangat.
"Saat itu saya berpikir, bagus juga kalau dibuat tari," kenang penggagas Mugidance ini.
Tahun 2000, Mugiyono mulai serius menggarap menari di dalam kaus. Ia pun membuat tari berjudul Kabar Kabur. Tari itu mengkritisi keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia yang gamang menjelang kejatuhan Orde Baru. Tak disangka, karyanya tersebut menuai banyak apresiasi dan pujian. Kabar Kabur pun dipentaskan sebanyak 130 kali di 17 negara. Karya ini membawa Mugiyono melanglang buana ke berbagai festival bergengsi, semisal Lincoln Center Festival (New York, Amerika Serikat), Kunsten Festival des Arts (Belgia), Goteborg Festival (Swedia), Adelaide Festival (Australia), Hongkong Arts Festival (Hongkong), In Transit Festival (Jerman), Dancas na Cidade (Portugal), dan Asian Contemporary Dance Now (Jepang).
SUASANA ruas jalan Slamet Riyadi, tepatnya depan toko Buku Gramedia Solo, terlihat ramai, Minggu (1/4) pagi. Mereka menyaksikan keahlian Mugiyono melakukan gerakan tari dalam kaos. Pria kelahiran Jogodayoh, Kabupaten Klaten mengawali gerakannya dengan teknik secara cepat memasukkan dua tangan ke dalam kaus, sehingga kelihatan seperti orang buntung.
"Menari biasanya butuh kostum. Tapi, bagi saya, cukup menggunakan kaus oblong sebagai medianya," kata Mugiyono.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba tangan yang ada di dalam kaus itu muncul kembali di kedua lengan kaus. Namun hanya sebagian tangan saja yang keluar. Mugiyono lantas duduk jongkok, dan memasukkan dua kakinya ke dalam kaus. Ia lalu berjalan sehingga mirip orang cebol. Menurut pria jebolan Institut Seni Indonesia ISI Solo (dahulu Sekolah Tinggi Seni Indonesia atau STSI) Jurusan Seni Tari tersebut, menari di dalam kaus juga bisa dipadukan dengan gerakan-gerakan tari Jawa, Bali, atau tari dari daerah lain di Indonesia. Seluruh gerakan yang ada pada tari kaus juga bukan sembarangan melainkan memiliki makna.
Mugiyono mengisahkan, pada benaknya mulai terlintas membuat menari di dalam kaus sekitar tahun 1998. Saat itu ia sedang asyik nongkrong di wedangan atau angkringan bersama teman-temannya. Karena cuaca malam hari cukup dingin, seorang temannya memasukkan kaki dan tangannya ke dalam kaus agar hangat.
"Saat itu saya berpikir, bagus juga kalau dibuat tari," kenang penggagas Mugidance ini.
Tahun 2000, Mugiyono mulai serius menggarap menari di dalam kaus. Ia pun membuat tari berjudul Kabar Kabur. Tari itu mengkritisi keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia yang gamang menjelang kejatuhan Orde Baru. Tak disangka, karyanya tersebut menuai banyak apresiasi dan pujian. Kabar Kabur pun dipentaskan sebanyak 130 kali di 17 negara. Karya ini membawa Mugiyono melanglang buana ke berbagai festival bergengsi, semisal Lincoln Center Festival (New York, Amerika Serikat), Kunsten Festival des Arts (Belgia), Goteborg Festival (Swedia), Adelaide Festival (Australia), Hongkong Arts Festival (Hongkong), In Transit Festival (Jerman), Dancas na Cidade (Portugal), dan Asian Contemporary Dance Now (Jepang).
Penulis : Ikrob Didik Irawan || Editor : Hanan Wiyoko
Ikuti Tribunjogja.com melalui sosial media twitter @tribunjogja
Populer
Lainnya








