Home »

DIY

» Sleman

Labuhan Merapi Meriah

Upacara adat Labuhan Merapi pada Minggu (3/7/11) sangat meriah

Labuhan Merapi Meriah
Tribun Jogja / Hasan Sakri Ghozali
Arak-arakan abdi dalem Keraton Yogyakarta dan warga saat mengikuti Labuhan Gunung Merapi di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (3/7/2011)
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Upacara adat Labuhan Merapi pada Minggu (3/7) sangat meriah. Ratusan orang mengikuti upacara dengan ikut berjalan melewati tanjakan curam di belakang iring-iringan juru kunci Merapi yang baru, Mas Lurah Surakso Asihono atau yang akrab dipanggil Mas Asih.

Dalam Labuhan Merapi kali ini, Asih sangat berharap agar doa yang ia panjatkan dapat memberikan keselamatan untuk semua umat manusia, terutama yang ada di daerah lereng Merapi. "Terima kasih untuk semua bantuan untuk kelancaran Labuhan Merapi ini," ujar Asih sambil mengatakan Labuhan Merapi digelar guna memperingati jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Warga berdatangan menuju shelter Plosokerep sekitar pukul 05.00 pagi. Beberapa rombongan dari lokasi yang jauh bahkan rela bermalam di tempat itu. Ada yang menginap di kediaman Asih, ada pula yang menginap di penginapan setempat.

Rombongan abdi dalem Kraton Yogyakarta berangkat dari kediaman Asih di shelter Plosokerep, Umbulharjo, Cangkringan. Ube rampe dibawa dengan kendaraan mobil. Rombongan kemudian turun dan mulai berjalan kaki saat memasuki Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Sebelum berjalan menuju lokasi Labuhan Merapi yang baru di Alas Bedhengan, rombongan berhenti dan mengheningkan cipta sejenak di bekas kediaman Mbah Maridjan setelah berjalan sekitar setengah jam lamanya.

Rombongan tidak boleh berjalan mendahului sang juru kunci. Sepanjang perjalanan, rombongan mendapat pengalaman pagar betis dari Tagana.

Perjalanan ke lokasi Labuhan Merapi sekitar satu kilometer jauhnya. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Uba rampe dari Kraton Yogyakarta dikeluarkan dari kotak kayu. Uba rampe itu terdiri dari delapan jenis kain, yakni Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Mlathi, Semekan Bangun Tulak, Kampuh Poleng Ciut, Dhestar Dara Muluk, dan Paningset Udaraga. Selain itu, sela (kemenyan), ratus (taburan menyan), liyah konyoh (minyak wangi), yatra tindhih (uang tindih) satu amplop, dan ses
Wangen (rokok harum) digelar diatas altar labuhan.

Sela ratus atau kemenyan kemudian dibakar sebagai awal persembahan barang labuhan. Ada beberapa penjaga Gunung Merapi yang ikut hadir, yakni Empu Rama, Empu Ramadi, Gusti Panembahan Prabu Jagad, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbok Ageng Lambang Sari, Mbok Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Megantoto.

Di lokasi Labuhan Merapi, warga juga memperebutkan nasi, daging ayam, dan parutan kelapa. Warga meyakini bahwa dengan mendapatkannya akan memperoleh berkat yang berlimpah.(jsa)
Editor: bilank
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help