Relawan SAR Merapi Dibui
Sebelum Ditangkap Arief Bakar Bangkai Sapi
Saya bertugas memotong pohon-pohon yang menghalangi jalan untuk evakuasi.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Arief Johar Cahyadi Permana (24), terdakwa kepemilikan senjata tajam yang kini mendekam di Lapas Cebongan Sleman, merupakan relawan SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Posko Balairantai. “Saya bergabung awal November 2010, setelah letusan besar itu. Saya tergerak saja untuk membantu,” katanya, saat ditemui di Lapas Cebongan, Rabu (2/1/2011).
Ditambahkan, begitu terjadi letusan besar dan abu Merapi masuk Kota Yogya, Universitas Indonesia (UII), kampus tempatnya kuliah, libur. Selain karena udara cukup pekat, kampus di kawasan Jl Kaliurang itu dijadikan tempat pengungsian.
“Ketika melihat pengungsi yang bertumpuk-tumpuk di kampus, saya tergerak. Saya kasihan. Karena itu, saya kemudian daftar jadi relawan. Waktu itu ada teman kampus juga yang ikut daftar,” kata Arief.
Saat itu, Arief sengaja memilih SAR Pos Balairantai, karena dekat dengan rumah orang tuanya. Ia berpikir, kalau ada sesuatu dengan keluarganya, dia bisa cepat bisa menolong.
Di pos itu, Arief bersama anggota SAR lainnya ditugasnya menjadi Tim Pendahulu. “Saya bertugas memotong pohon-pohon yang menghalangi jalan untuk evakuasi. Setelah dimungkinkan untuk dilalui kendaraan, baru tim lain masuk,” katanya.
Beberapa hari selama menjadi relawan, Arief menikmati tugasnya itu. Pagi hari, ia bersama rombongan berangkat menuju lokasi yang telah ditentukan, dan menjelang siang dia kembali ke pos. Perlengkapan standar selalu menemani pekerjaannya itu adalah linggis, parang, pisau lipat, senter dan masker.
Meski harus menguras tenaga, Arief mengaku sangat menikmati tugas kemanusiaan itu. Apalagi, ketika tim-nya sempat mengevakuasi dua korban meninggal, laki-laki asli Klaten itu semakin bersemangat.
Di hari terakhir tugasnya sebagai relawan, 23 November 2010, Arief dan tim-nya bertugas membakar bangkai sapi dan memotong pohon-pohon di lereng Merapi sisi Klaten. Pukul 14.00 WIB, Arief kembali ke Posko dan beristirahat.
Setelah sekitar satu jam beristirahat, Arief bersama relawan lainnya disibukkan dengan pengurusan bantuan logistik. Malam harinya, sekitar pukul 22.00 WIB Arief memutuskan kembali ke Yogya, karena keesokan harinya harus mengikuti perkuliahan di Jurusan Akutansi, Fakultas Ekonomi, UII.
Untuk menuju Kota Gudeg, Arief melalui jalur Maguwoharjo melewati Jembatan Timbang. Kebetulan, malam itu di kawasan tersebut sedang dilangsungkan razia oleh Polres Sleman. Dan, pisau lipat perlengkapan SAR yang dibawanya, membawa laki-laki itu ke sel. (*)