TribunJogja/

Tetap Berkarya dari Balik Tembok Penjara

Yudha (29) harus mendekam dalam sel Rutan Wirogunan tempat ia ditahan terkait kasus narkoba.

Tetap Berkarya dari Balik Tembok Penjara - via-via1.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/PUTRI FITRIA
Tetap Berkarya dari Balik Tembok Penjara - via-via2.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/PUTRI FITRIA
Tetap Berkarya dari Balik Tembok Penjara - via-via3.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/PUTRI FITRIA
Laporan Reporter Tribun Jogja, Putri Fitria

ALUNAN musik Spanyol yang dibawakan kelompok musik Suara Minoritas menyambut pengunjung ViaVia Cafe & Artspace pada pembukaan pameran "Satu Cerita Tentang si Markisa".

Lantai dansa seketika tercipta, menyedot pengunjung untuk berdansa. Namun seorang dari 22 seniman yang karya-karyanya dipamerkan tidak hadir dalam keriuhan tersebut. Yudha (29) harus mendekam dalam sel Rutan Wirogunan tempat ia ditahan terkait kasus narkoba.

Meski sudah enam bulan terkungkung, Yudha tidak berhenti berkarya. Inspirasi dan imajinasinya ia tuangkan dengan media seadanya, pensil dan kertas-kertas folio ukuran A4.

"Seni adalah hak asasi manusia. Tidak ada batas, tidak ada dinding dan sel yang bisa menghentikannya. Saya masih terus berimajinasi, mendapat inspirasi dan pesan untuk ditulis dalam gambar," ujar Yudha kepada Tribun Yogya, Kamis (20/01/2011) malam.

Sedikitnya 19 sketsa gambar Yudha dipajang secara acak di dinding ViaVia cafe bersama karya-karya foto, lukisan, dan instalasi seniman lainnya. Yudha sendiri tidak menyangka akan sebanyak itu karyanya yang diapresiasi.

Hampir semua sketsa Yudha berupa gambar tangan yang sedang menyampaikan pesan lewat gerakan-gerakan simbolik. Baginya tangan-tangan tersebut merepresentasikan karunia Tuhan, sebagai alat kerja yang paling berharga.

"Curhatku dengan menggambar tangan itu sebuah tolak pikir kebelakang. Bagaimana seharusnya dan sebaiknya "alat" yang diberikan Tuhan dapat menjadi sesuatu, dapat mencipta suatu kondisi, dapat menjadi alat komunikasi dengan-Nya," beber Yudha antusias.

House of Pain, begitu Yudha menyebut selnya, adalah pelajaran berharga sekaligus sumber inspirasi tanpa batas untuknya. Tempatnya untuk merenung dan berpikir ulang akan hal-hal kontraproduktif yang kerap ia lakukan sebelumnya.

Yudha sadar bahwa ia sesungguhnya tidak membutuhkan narkoba untuk dapat berkarya. Perasaan senang, bahagia, sedih, kecewa, benci ia ungkapkan dapat menjadi stimulan dalam berkesenian.

 "Stay away from drugs! Masa depan di tangan masing-masing  "make it, dream it, wondering it, plan it and plan it..'. Sedangkan saya sekarang yang penting tetap semangat," pesan Yudha.

Keseluruhan karya Yudha merupakan refleksi diri yang ia persembahkan untuk hal paling berharga dalam hidupnya, keluarga. Cita-citanya ketika keluar sel nanti adalah melewatkan waktu lebih banyak bersama adik dan ayah-ibu nya kemudian mencoba lebih positif dan berguna dalam segala hal.

"Yang utama aku ingin melakukan banyak hal positif bagi diriku, keluarga, mungkin masyarakat banyak dalam berkarya seni dan melestarikan budaya. Aku harap dan aku percaya..," kata laki-laki berdarah Sunda ini optimistis. 

Yudha mulai tertarik pada dunia fineart dan dan streetart ketika membangun komunitas Sakit Kuning di Jakarta bersama rekan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada pertengahan 2006. 

Komunitas seni kolektif ini diciptakan sebagai bentuk penawaran berkarya seni bebas tanggungjawab, yang konteksnya saat itu berada dalam kekangan kampus.(*)

Editor: xna
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help