Review Visual Novel: Z.A.T.O // I Love the World and Everything In It
Z.A.T.O. // I Love the World and Everything In It adalah sebuah visual novel psikologis yang menghadirkan cerita misterius dengan nuansa filosofis.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Dikembangkan oleh kreator independen Ferry dan dirilis di Steam pada 10 November 2025 untuk platform PC.
- Z.A.T.O mengambil latar pada tahun 1986 di Uni Soviet, tepatnya di kota fiksi bernama Vorkuta-5.
- Memperoleh ulasan Overwhelmingly Positive di Steam dengan sekitar 98 persen review positif dari ribuan pemain.
TRIBUNJOGJA.COM – Z.A.T.O. // I Love the World and Everything In It adalah sebuah visual novel psikologis yang menghadirkan cerita misterius dengan nuansa filosofis.
Game ini dikembangkan oleh kreator independen Ferry dan dirilis di Steam pada 10 November 2025 untuk platform PC.
Meski tampil sederhana sebagai visual novel, game ini berhasil menarik perhatian berkat atmosfernya yang kuat serta cerita yang menyentuh tema eksistensial dan identitas manusia.
Berbeda dengan banyak visual novel lain yang menawarkan berbagai pilihan cerita, Z.A.T.O justru mengambil pendekatan yang lebih linear.
Pemain tidak akan menemukan sistem pilihan atau berbagai ending alternatif.
Sebaliknya, pemain diajak mengikuti alur cerita yang sudah ditentukan sejak awal hingga akhir.
Pendekatan ini membuat pengalaman bermain terasa seperti membaca novel atau menonton film yang penuh dengan refleksi filosofis.
Berikut reviw lengkap game Z.A.T.O. // I Love the World and Everything In It, mulai dari cerita, karakter, hingga kelebihan dan kekurangannya.
Yuk, simak artikel berikut!
Latar Cerita yang Misterius di Era Uni Soviet
Z.A.T.O mengambil latar pada tahun 1986 di Uni Soviet, tepatnya di kota fiksi bernama Vorkuta-5.
Kota tersebut merupakan wilayah tertutup yang tidak tercantum dalam peta publik.
Istilah ZATO sendiri merupakan singkatan dari Closed Administrative-Territorial Formation, yaitu kota rahasia yang biasanya digunakan untuk penelitian militer atau kegiatan sensitif pada masa Soviet.
Dalam cerita ini, pemain mengikuti kisah seorang gadis bernama Asya Shubina.
Ia merupakan remaja yang cenderung pendiam dan memiliki kecemasan sosial.
Suatu hari, salah satu temannya bernama Ira Grachevskaya tiba-tiba menghilang secara misterius.
Anehnya, hampir tidak ada orang yang tampak peduli dengan hilangnya Ira.
Situasi tersebut membuat Asya mulai mempertanyakan berbagai hal tentang dunia di sekitarnya.
Ia mencoba mencari jawaban atas hilangnya Ira sekaligus memahami realitas yang terasa semakin aneh.
Visual Novel dengan Struktur Linear
Salah satu hal yang membuat Z.A.T.O berbeda dari banyak visual novel lainnya adalah struktur ceritanya.
Game ini merupakan kinetic visual novel, yaitu jenis visual novel yang tidak memiliki pilihan cerita atau percabangan alur.
Pemain hanya mengikuti cerita yang telah ditentukan hingga mencapai satu ending tunggal.
Bagi sebagian pemain yang terbiasa dengan visual novel berbasis pilihan, hal ini mungkin terasa kurang interaktif.
Namun justru pendekatan tersebut menjadi kekuatan utama Z.A.T.O.
Cerita dalam game ini dibangun secara linear dengan fokus penuh pada narasi, dialog, dan monolog internal sang karakter utama.
Selama sekitar enam hingga delapan jam permainan, pemain akan mengikuti perjalanan emosional Asya dalam memahami dunia di sekitarnya.
Dengan durasi yang relatif singkat, cerita dapat disampaikan dengan ritme yang konsisten tanpa terasa terlalu panjang.
Tema Eksistensial
Hal yang paling menonjol dari Z.A.T.O adalah tema filosofis yang diangkatnya.
Game ini pada dasarnya mempertanyakan satu hal sederhana namun mendalam: apa arti keberadaan seseorang di dunia yang seolah tidak mengakuinya.
Pertanyaan tersebut dieksplorasi melalui berbagai simbol, monolog internal, dan interaksi antar karakter.
Asya digambarkan sebagai karakter yang sangat observatif. Ia sering memperhatikan detail kecil di sekitarnya, seperti burung yang terbang atau perubahan suasana kota.
Pengamatan tersebut seringkali memicu refleksi filosofis mengenai realitas, identitas, dan tujuan hidup.
Meski tema eksistensial sering kali terasa berat, penyampaian dalam game ini dibuat cukup natural.
Banyak konsep ilmiah dan filosofis disampaikan melalui sudut pandang seorang pelajar sehingga tidak terasa terlalu rumit.
Pendekatan ini membuat cerita tetap mudah diikuti oleh pemain yang mungkin tidak terbiasa dengan tema filosofis.
Karakter yang Kompleks
Selain cerita yang kuat, karakter dalam Z.A.T.O juga menjadi salah satu daya tarik utama.
Tokoh utama, Asya Shubina, mungkin terlihat seperti protagonis visual novel pada umumnya.
Ia mudah dipahami dan memiliki kepribadian yang sensitif.
Namun yang membuat karakter ini menarik adalah cara ia memandang dunia.
Monolog internalnya sering kali memberikan sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang terjadi.
Selain Asya, ada beberapa karakter penting lainnya seperti Ira Grachevskaya, Marina Kaplan, dan Vadim Garin.
Pada awalnya, karakter-karakter tersebut terlihat seperti stereotip dari cerita anime atau manga.
Namun seiring berjalannya cerita, motivasi mereka menjadi semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Game ini tidak berusaha membuat semua karakter terasa menyenangkan atau simpatik.
Sebaliknya, karakter-karakter tersebut ditampilkan dengan sisi yang terkadang membingungkan atau bahkan mengganggu.
Pendekatan ini membuat cerita terasa lebih realistis dan memperkuat tema eksistensial yang diangkat.
Atmosfer yang Kuat Berkat Visual dan Musik
Salah satu aspek yang mendapat banyak pujian dalam game ini adalah arah artistik dan atmosfernya.
Visual dalam Z.A.T.O berhasil menggambarkan suasana kota Soviet era Perang Dingin dengan nuansa yang suram dan misterius.
Background yang digunakan mungkin terlihat sederhana pada awalnya.
Namun seiring waktu, pemain akan mulai merasakan bahwa kota Vorkuta-5 benar-benar terasa hidup.
Lingkungan kota, sekolah, dan jalanan digambarkan secara konsisten sehingga pemain dapat membayangkan bagaimana karakter bergerak di dalam dunia tersebut.
Selain visual, musik juga memainkan peran penting dalam membangun atmosfer cerita.
Soundtrack yang digunakan memang berasal dari sumber musik bebas, tetapi pemilihannya terasa tepat dan mampu memperkuat emosi dalam setiap adegan.
Hasilnya adalah pengalaman yang terasa sinematik, seolah pemain sedang menonton film atau serial drama psikologis.
Pacing Cerita yang Singkat Namun Efektif
Banyak visual novel terkenal memiliki durasi permainan hingga puluhan jam.
Namun Z.A.T.O mengambil pendekatan yang lebih singkat dengan durasi sekitar enam jam permainan.
Durasi ini dinilai cukup efektif karena mampu menjaga fokus cerita tanpa membuat pemain merasa lelah.
Beberapa pemain memang merasa bahwa bagian akhir cerita terasa agak cepat.
Namun sebagian pengulas justru menilai bahwa akhir yang terasa mendadak tersebut sengaja dibuat untuk meninggalkan kesan mendalam.
Alih-alih memberikan penjelasan yang sepenuhnya jelas, game ini membiarkan pemain merenungkan sendiri makna dari cerita yang baru saja mereka alami.
Kekurangan
Meski mendapat banyak pujian, Z.A.T.O bukan tanpa kekurangan.
Salah satu kritik utama adalah minimnya interaktivitas.
Karena tidak memiliki pilihan cerita atau percabangan alur, pemain hanya mengikuti cerita yang sama setiap kali bermain.
Hal ini membuat nilai replayability menjadi cukup rendah.
Selain itu, fitur aksesibilitas dalam game ini juga cukup terbatas.
Beberapa pengaturan seperti kecepatan teks dan kontrol dasar memang tersedia, tetapi opsi tambahan seperti mode gelap atau pengaturan visual lanjutan tidak disediakan.
Meski demikian, kekurangan tersebut tidak terlalu mengurangi pengalaman bermain secara keseluruhan.
Respon Positif dari Komunitas
Sejak dirilis di Steam, Z.A.T.O mendapat respon yang sangat positif dari para pemain.
Game ini bahkan memperoleh ulasan Overwhelmingly Positive dengan sekitar 98 persen review positif dari ribuan pemain.
Banyak pemain memuji kekuatan cerita, atmosfer, dan pendekatan filosofis yang jarang ditemukan dalam game indie.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sederhana dari segi gameplay, Z.A.T.O berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi para pemainnya.
Z.A.T.O. // I Love the World and Everything In It merupakan contoh bagaimana sebuah game indie dapat menghadirkan pengalaman yang kuat melalui cerita.
Dengan latar kota misterius di era Soviet, karakter yang kompleks, serta tema eksistensial yang mendalam, game ini berhasil menciptakan pengalaman yang berbeda dari visual novel pada umumnya.
Meski minim interaktivitas dan tidak memiliki banyak fitur tambahan, kekuatan utama game ini terletak pada narasinya yang emosional dan atmosfernya yang unik.
Bagi penggemar visual novel atau pemain yang menyukai cerita psikologis yang penuh refleksi, Z.A.T.O bisa menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Game ini mungkin bukan untuk semua orang, terutama bagi pemain yang menginginkan gameplay yang interaktif.
Namun bagi mereka yang siap mengikuti perjalanan naratif yang introspektif, Z.A.T.O menawarkan cerita yang unik, misterius, dan sulit dilupakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260312-ZATO-I-Love-the-World-and-Everything-In-It.jpg)