5 Puisi Tahun Baru: Luka yang Tak Selesai, Hati yang Memilih Bertahan

Lewat rangkaian 5 puisi reflektif ini, mekaman suara-suara sunyi tentang bertahan, berdamai dengan kecewa, dan keberanian melangkah lagi.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Tribunnews.com
Ilustrasi puisi menekankan makna bertahan dan berdamai dengan diri sendiri 

Ringkasan Berita:
  • Puisi ini merefleksikan sisi sunyi pergantian tahun, tentang luka, lelah, dan harapan yang belum terwujud.
  • Lima puisi menekankan makna bertahan dan berdamai dengan diri sendiri, alih-alih mengejar resolusi sempurna.
  • Tulisan ini mengajak pembaca menyambut tahun baru dengan lebih tabah, menjadikan bertahan sebagai bentuk kemenangan.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pergantian tahun sering dirayakan dengan sorak, seolah semua luka harus selesai begitu kalender berganti.

Padahal, tak sedikit orang yang menutup tahun dengan lelah, rencana gagal, dan doa yang belum menemukan jawaban.

Lewat rangkaian puisi reflektif ini, akan tertuang rekaman suara-suara sunyi tentang bertahan, berdamai dengan kecewa, dan keberanian melangkah lagi. 

Puisi-puisi ini tak menjanjikan resolusi sempurna, melainkan kejujuran tentang manusia yang tetap hidup meski retak.

Di ambang tahun baru, tulisan ini menjadi pengingat bahwa bertahan pun adalah bentuk kemenangan.

Berikut 5 puisi yang bisa menjadi teman kamu dalam merayakan perjalanan lalu:

1. Tahun yang Pulang

Tahun berjalan tanpa menoleh

Meninggalkan tapak di dada waktu

Aku berdiri di ambangnya

Menghitung luka yang belajar bernapas

Pun harap yang tumbuh meski diguyur ragu

 

Tak semua doa sempat menjelma

Tak semua rencana sampai ke ujung

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved