Kejahatan Siber Kian Canggih, Ransomware Berbasis AI Mulai Bermunculan

ESET mencatat kemunculan PromptLock, ransomware berbasis AI pertama yang diketahui mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
istimewa
Ilustrasi 
Ringkasan Berita:
  • Laporan ESET Threat Report H2 2025 mengungkap lonjakan signifikan berbagai ancaman siber, mulai dari penipuan online, kebocoran data, hingga ransomware.
  • Temuan pentingnya adalah penggunaan kecerdasan buatan oleh pelaku kejahatan digital yang kini sudah masuk ke tahap operasional, bukan lagi sebatas konsep
  • Modus penipuan investasi dan scam online juga terus berevolusi. 
  • ESET juga mencatat lonjakan signifikan serangan berbasis Near Field Communication atau NFC

 

TRIBUNJOGJA.COM - Perkembangan teknologi digital yang semakin masif turut diiringi dengan meningkatnya risiko kejahatan siber, baik bagi individu maupun pelaku usaha. 

Transformasi digital yang dipercepat oleh adopsi kecerdasan buatan dan layanan berbasis data membuka peluang besar, namun sekaligus menghadirkan tantangan serius di bidang keamanan siber yang tidak bisa diabaikan.

Kondisi tersebut tercermin dalam laporan terbaru ESET Threat Report H2 2025 yang dirilis oleh ESET Research. Laporan yang merangkum data periode Juni hingga November 2025 ini mengungkap lonjakan signifikan berbagai ancaman siber, mulai dari penipuan online, kebocoran data, hingga ransomware.

Ransomware berbasis AI

Salah satu temuan pentingnya adalah penggunaan kecerdasan buatan oleh pelaku kejahatan digital yang kini sudah masuk ke tahap operasional, bukan lagi sebatas konsep.

ESET mencatat kemunculan PromptLock, ransomware berbasis AI pertama yang diketahui mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis. Temuan ini menandai perubahan besar dalam lanskap ancaman siber, di mana AI dimanfaatkan untuk mengotomatisasi serangan sekaligus mempercepat penyebarannya.

“Selama ini AI sudah digunakan untuk membuat konten phishing atau scam sehingga makin hari makin tampak meyakinkan. Namun kemunculan ransomware berbasis AI seperti PromptLock menunjukkan arah ancaman yang jauh lebih serius dan ini perlu menjadi alarm, terutama dalam menghadapi serangan siber di Indonesia,” kata Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group, Selasa (30/12/2025).

Penipuan online berevolusi

Selain ransomware, modus penipuan investasi dan scam online juga terus berevolusi. ESET menemukan peningkatan deteksi Nomani scam hingga 62 persen secara tahunan. Pelaku memanfaatkan teknologi deepfake berkualitas tinggi, situs phishing berbasis AI, serta iklan digital berumur sangat singkat untuk menghindari sistem pendeteksian.

Ancaman ransomware sendiri menunjukkan lonjakan tajam sepanjang 2025. Jumlah korban dilaporkan telah melampaui total sepanjang 2024 bahkan sebelum akhir tahun, dengan proyeksi kenaikan sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Model ransomware as a service semakin didominasi oleh kelompok seperti Akira dan Qilin, sementara pemain baru seperti Warlock hadir dengan teknik pengelakan yang lebih canggih.

Yang menjadi perhatian, sasaran ransomware kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Usaha kecil dan menengah, institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu menjadi target empuk, terutama mereka yang belum memiliki sistem keamanan berlapis atau kebiasaan digital yang aman.

Serangan berbasis NFC

Di sisi perangkat mobile, ESET mencatat lonjakan signifikan serangan berbasis Near Field Communication atau NFC, dengan peningkatan deteksi mencapai 87 persen pada paruh kedua 2025. Malware lama seperti Ngate berkembang dengan fitur pencurian kontak, sementara malware baru RatOn membawa kombinasi serangan remote access trojan dan relay NFC. RatOn diketahui disebarkan melalui halaman Google Play palsu dan iklan yang menyamar sebagai aplikasi populer, termasuk layanan perbankan digital.

“Ponsel kini menjadi target serius serangan siber, seiring meningkatnya penggunaan mobile banking dan dompet digital, sementara kesadaran keamanan pengguna masih tertinggal,” ujar Yudhi Kukuh.

Sementara itu, infostealer Lumma Stealer yang sempat marak pada awal 2025 mengalami penurunan drastis hingga 86 persen setelah mengalami gangguan pada Mei. Namun celah tersebut dengan cepat diisi oleh malware baru seperti CloudEyE atau GuLoader yang melonjak hampir 30 kali lipat dan kerap digunakan sebagai pintu masuk bagi ransomware serta pencurian data lanjutan.

Rangkaian temuan ini mempertegas bahwa ancaman siber kini bergerak lebih cepat, lebih cerdas, dan semakin sulit dideteksi seiring pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan digital. Bagi Indonesia yang tengah mendorong transformasi digital dan adopsi AI di berbagai sektor, laporan ini menjadi pengingat bahwa kesiapan keamanan siber harus berjalan seiring dengan inovasi teknologi.(nto)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved