Harga Minyak Dunia Melonjak, Tembus 106 Dolar AS Per Barel, Dipicu Perang Iran vs AS dan Isreal
Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan akibat perang Iran vs AS dan Israel. Saat ini harga minyak dunia 105 dolar AS per barel.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan akibat perang Iran vs AS dan Israel.
Saat ini harga minyak dunia menembus lebih dari 105 dolar AS per barel.
Minyak mentah Brent naik menjadi 106,12 dolar AS per barel, sedangkan minyak AS naik menjadi 101,53 dolar AS per barel.
Sementara pekan lalu, harga minyak mentah dunia menyentuh angka 120 dolar AS per barel.
Namun harga itu tak berlangsung lama, dan stabil diangka 100 dolar AS.
Harga minyak mentah pada hari ini merupakan level tertinggi sejak Juli 2022.
Kenaikan harga minyak mentah ini merupakan dampak dari terganggunya pasokan minyak akibat perang Iran vs AS dan Israel.
Perang tersebut membuat Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20 persen minyak dunia.
Iran menutup Selat Hormuz untuk kapal tangker yang mengangkut minyak sejak konflik pecah.
Sementara itu Presiden AS Donald Trump menyerukan bantuan negara-negara internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga: Tragedi Jalur Suro Ombo Gunungkidul: Tiga Remaja Terperosok ke Ladang Usai Buka Bersama
Trump menekankan arus minyak harus berjalan cepat dan aman.
Meski pemerintah AS berupaya menenangkan pasar, Iran meningkatkan tekanan.
Iran memasang ranjau di Selat Hormuz dan mengancam menyerang infrastruktur minyak dan gas terkait AS.
Kapal tanker telah dihantam beberapa kali sejak 28 Februari.
AS juga membombardir Pulau Kharg, pusat produksi minyak Iran.
Namun pemerintah Trump menegaskan produksi minyak utama Iran masih aman.
Kenaikan harga minyak mendorong pemerintah untuk menstabilkan pasokan.
BP mendapat persetujuan untuk proyek lepas pantai baru di Teluk Amerika.
Sable Offshore Corp. diarahkan mengaktifkan kembali rig dan pipa lepas pantai di California Selatan.
Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepaskan 400 juta barel minyak darurat pada akhir Maret 2026.
Lonjakan harga minyak berdampak luas pada ekonomi global.
Di AS, harga bensin naik 24 persen menjadi rata-rata 3,70 dolar AS per galon sejak awal perang.
Gangguan Selat Hormuz juga mengancam distribusi pupuk, yang berpotensi menaikkan harga pangan global.
Barang mudah rusak seperti susu, buah-buahan, sayuran, dan ikan kemungkinan terdampak pertama.
Sebelumnya, harga bensin sempat turun di bawah 3 dolar AS per galon pada Desember 2025.
Analis memperingatkan harga minyak akan tetap fluktuatif di perdagangan di luar jam kerja.
Spekulan melakukan lindung nilai posisi saat volume perdagangan rendah.
Ketidakpastian pasar global tetap tinggi karena pasokan minyak terganggu akibat perang yang belum mereda.
Artikel ini sudah tayang di Tribunnews.com.
| Misteri Sinyal SOS F-35 Lightning II di Atas Selat Hormuz |
|
|---|
| Pascaperingatan Rudal Iran, AS Hentikan Operasi Pengawalan Kapal di Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump Perintahkan Militer Kawal Kapal di Selat Hormuz, Iran Beri Peringatan Keras |
|
|---|
| Iran Tak Gentar, Siap Balas Serangan AS |
|
|---|
| Blokade Jalur Energi: Iran Siapkan Manajemen Baru di Selat Hormuz Lawan Amerika |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jika-Teheran-Tutup-Selat-Hormuz-Jika-Ada-yang-Mendukung-Israel.jpg)