Mengenal Hari Rabies Sedunia Diperingati Tiap 28 September
Peringatan ini diinisiasi oleh Global Alliance for Rabies Control (GARC) yang bekerja sama dengan pemerintah, LSM, dan masyarakat global.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM- Setiap 28 September, dunia memperingati Hari Rabies Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya rabies.
Tanggal ini dipilih untuk menghormati Louis Pasteur, penemu vaksin anti-rabies pertama.
Peringatan ini diinisiasi oleh Global Alliance for Rabies Control (GARC) yang bekerja sama dengan pemerintah, LSM, dan masyarakat global.
Tujuannya jelas yakni menyebarkan edukasi tentang rabies serta mendorong langkah konkret untuk mengendalikan penyebaran penyakit mematikan ini, baik pada manusia maupun hewan.
Menurut World Health Organization (WHO), rabies adalah penyakit yang sebenarnya 100 persen dapat dicegah.
Meski begitu, setiap tahun lebih dari 59.000 orang di lebih dari 150 negara meninggal akibat rabies.
WHO juga mencatat bahwa rabies bersifat endemik di delapan dari 11 negara Asia Tenggara.
Kawasan ini dihuni oleh lebih dari 1,5 miliar penduduk, dengan sekitar 26.000 kematian setiap tahun akibat rabiessekitar 45 persen dari total global.
Di Indonesia sendiri, rabies atau yang sering disebut “penyakit anjing gila” masih menjadi masalah serius kesehatan masyarakat.
Hingga April 2023, tercatat 11 orang meninggal akibat rabies, sehingga statusnya dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kasus-kasus tersebut banyak terjadi di daerah endemis, di mana masyarakat sering terpapar gigitan anjing, kucing, atau bahkan kera yang membawa virus rabies.
Penyebab dan Cara Penularan
Rabies adalah infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat, baik pada manusia maupun hewan.
Virus ini biasanya menular melalui gigitan, cakaran, atau air liur hewan yang sudah terinfeksi.
Hewan penular utama adalah anjing, tetapi kucing, kelelawar, dan kera juga dapat menyebarkan virus.
Hewan liar maupun peliharaan yang tidak divaksinasi termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.
Gejala Rabies
Mengutip AloDokter.com, gejala rabies bisa muncul dalam rentang waktu 5 hari hingga 1 tahun setelah tergigit.
Namun, pada umumnya gejala berkembang 30–90 hari setelah paparan.
Gejala awal biasanya meliputi sebagai berikut
- Demam atau menggigil
- Rasa kesemutan atau nyeri di sekitar bekas gigitan
- Sakit kepala
- Lemas atau kelelahan
- Hilangnya nafsu makan
Jika tidak segera ditangani, rabies dapat berkembang menjadi gejala berat, seperti kram otot, kesulitan bernapas, halusinasi, hingga koma.
Kondisi ini menandakan rabies sudah mencapai tahap fatal.
Pentingnya Pertolongan Dini
Banyak kasus kematian akibat rabies terjadi karena korban tidak melakukan pertolongan pertama setelah digigit.
Gigitan yang dianggap kecil atau tidak berdarah sering diabaikan, padahal air liur hewan yang terinfeksi sudah cukup untuk menularkan virus.
Selain itu, keterlambatan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan juga memperbesar risiko.
Pertolongan pertama yang dianjurkan adalah segera mencuci luka dengan sabun di bawah air mengalir selama 15 menit.
Kemudian mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti-rabies (VAR) atau serum anti-rabies (SAR) sesuai anjuran medis.
Baca juga: 25 Ucapan Hari Kereta Api Nasional 2025, Penuh Semangat dan Inspiratif
Melalui Hari Rabies Sedunia, GARC dan mitra global ingin menekankan bahwa rabies bisa diberantas jika vaksinasi hewan peliharaan dilakukan secara konsisten.
Program vaksinasi, terutama pada anak anjing berusia di bawah 12 bulan, terbukti efektif mencegah penyebaran virus.
Hari Rabies Sedunia mengingatkan kita semua bahwa rabies bukan sekadar ancaman lokal, melainkan masalah kesehatan global.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, kepedulian masyarakat, dan dukungan kebijakan pemerintah, target dunia bebas rabies bukan hal yang mustahil.
(MG/Sabbih Fadhillah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rabies_20160928_223031.jpg)