Lirik dan Makna "Bunga Maaf" The Lantis, Peraih AMI Awards 2025

Lagu “Bunga Maaf” milik The Lantis lahir dari kisah nyata penyesalan vokalis, hingga sukses menembus jutaan pendengar dan AMI Awards 2025.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja
Cover EP Bunga Maaf karya The Lantis (Instagram @thelantis) 
- Transpose +
Ringkasan Berita:
  • The Lantis adalah grup band pop indie beranggotakan tiga sepupu yang terbentuk pada 2020 dan kini dikenal luas lewat karya-karya personal dari album Pilot dan Pancarona.
  • Lagu “Bunga Maaf” menjadi titik penting perjalanan The Lantis, masuk playlist Hot Hits Indonesia di Spotify dengan lebih dari 244 juta pendengar dan mengantarkan mereka meraih penghargaan AMI Awards 2025.
  • Makna lagu “Bunga Maaf” berangkat dari kisah nyata penyesalan Ravi.

TRIBUNJOGJA.COM - The Lantis merupakan grup band pop indie Indonesia yang beranggotakan tiga personel, yakni Giri Virandi (gitar bass dan vokal utama), Ravi Rinaldy (gitar ritme dan vokal utama), serta Rifki Dzaky (gitar melodi). 

Menariknya, ketiganya masih memiliki hubungan saudara sepupu satu kakek bernama Ahmad Lanti, yang kemudian menginspirasi nama band The Lantis. 

Dibentuk pada tahun 2020, The Lantis telah merilis dua album berjudul Pilot dan Pancarona. 

Salah satu karya mereka, “Bunga Maaf”, yang merupakan bagian dari album Pancarona, berhasil masuk ke playlist Hot Hits Indonesia di Spotify dan telah didengarkan lebih dari 244 juta kali. 

Pencapaian tersebut mengantarkan The Lantis meraih nominasi sekaligus penghargaan Duo/Grup Pop Terbaik pada ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2025.

Agar pembaca dapat bernyanyi dan memahami makna lagu dengan lebih mudah, Tim TribunJogja menyajikan terjemahan lirik resmi “Bunga Maaf” yang diadaptasi dari Spotify. 

Baca juga: Lirik Lagu Lampu Merah – The Lantis, Viral di Aplikasi TikTok

Lirik Lagu Bunga Maaf (The Lantis)

Hai, masihkah.

Luka itu, ada disana?

Yang kutinggalkan.

Saat kita masih bersama.

 

Kini waktu terasa berbeda.

Tanpa hadirmu.

Keras hati yang dulu bicara.

Berujung pilu.

 

Andai angin mengulang sebuah masa yang telah usang.

Kan kutelan isi bumi hanya untukmu.

Terima bunga maafku, layu termakan egoku.

Meski ku tahu tak bisa.

 

Oh, mungkinkah.

Ada rindu dibalik benci itu?

Yang perlahan menghilang.

Saat nyamanku tak lagi kau butuh.

 

Kini waktu terasa berbeda.

Tanpa hadirmu.

Keras hati yang dulu bicara.

Berujung pilu.

 

Andai angin mengulang sebuah masa yang tlah usang.

Kan kutelan isi bumi hanya untukmu.

Terima bunga maafku, layu termakan egoku.

Meski ku tahu tak bisa.

 

Andai angin mengulang semua masa yang telah hilang.

Kan kutelan isi bumi hanya untukmu.

Terima bunga maafku, layu termakan egoku.

Meski ku tahu (meski ku tahu).

Meski ku tahu ku tak akan bisa.

 

Lagu “Bunga Maaf” mengangkat kisah penyesalan yang bersifat personal dan emosional. 

Berdasarkan keterangan Ravi dalam sebuah wawancara, lagu ini ditulis sebagai ungkapan permohonan maaf kepada sang kakek, Ahmad Lanti, yang pernah mengasuhnya sejak kecil. Melalui lirik "Masihkah. Luka itu, ada disana? Yang kutinggalkan, saat kita masih bersama" penyesalan itu disampaikan.

Ravi merasa tidak cukup meluangkan waktu dan perhatian sebagai cucu. Kini, saat sang kakek tengah mengalami sakit, Ravi menyampaikan rasa sesal dan cinta tersebut melalui karya musik berjudul "Bunga Maaf". 

Cerita inilah yang membuat lagu ini terasa jujur dan menyentuh banyak pendengar. (MG Erlysta Nafa Azhary)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved