Mengupas Makna di Balik Lagu Ambon Beta Seng Marah Mitha Talahatu

Lagu ini menggunakan bahasa dari daerah Ambon dan menyatu dengan nuansa kerinduan serta ketidakpastian dalam sebuah hubungan.

|
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Youtube.com/MitharmoniOffcial
Beta Seng Marah Mitha Talahatu 

TRIBUNJOGJA.COM - Lagu “Beta Seng Marah” dibawakan oleh penyanyi Ambon, Mitha Talahatu penyanyi legendaris timur ternama, cukup menarik perhatian.

Lagu ini menggunakan bahasa dari daerah Ambon dan menyatu dengan nuansa kerinduan serta ketidakpastian dalam sebuah hubungan.

Dengan aransemen yang sederhana namun menyentuh, Mitha menyulap kata-kata sehari-hari menjadi ungkapan hati yang bisa dirasakan banyak pendengar.

“Beta Seng Marah” yang artinya “Saya tidak marah” menggambarkan bahwa Ia tidak marah namun justru menyimpan luka yang tersembunyi  di balik ketidakmarahan tersebut.

Nada dan liriknya menyiratkan bahwa ada kesedihan, perjuangan menerima kenyataan, dan upaya mempertahankan harga diri meskipun hati terasa terluka.

Penolakan sebagai Bentuk Perlindungan Diri

Meskipun judul menyatakan bahwa sang penyanyi “Saya tidak marah,” hal ini bisa jadi strategi emosional untuk melindungi diri sendiri.

Dengan mengatakan “seng marah,” atau tidak marah, hati berusaha tetap tenang agar tidak terluka lebih dalam.

Ini menggambarkan bahwa kadang-kadang seseorang memilih diam dan menerima daripada terus memperjuangkan sesuatu yang mungkin tak bisa dipertahankan.

Kesedihan yang Dipendam dalam Diam

Bait-bait lagu menyiratkan luka yang belum sembuh dan kerinduan yang terus bertahan “Meski hati terluka … mungkin saya harus terima.”

Ada rasa butuh untuk melepaskan, namun tidak ada keberanian penuh untuk mengungkapkan betapa dalam rasa sakit itu.

Lagu ini mencerminkan banyak individu yang memilih memendam kesedihan ketimbang menimbulkan konflik.

Penerimaan Meski Berharap Lebih

Di bagian lirik seperti “Mungkin beta harus terima / Ale ternyata bukan lahir par beta” yang artinya saya harus menerima kalau ternyata kamu bukan untuk saya.

Terdengar bahwa penyanyi sedang berdamai dengan kenyataan bahwa orang yang dicintai mungkin bukan jodoh bagi dirinya.

Meski harapan sempat hadir, penerimaan menjadi jalan agar hati tidak terus tersiksa.

Kesetiaan yang Tak Terlihat

Walau menghadapi  kekecewaan dan jarak emosional, masih terdengar nuansa kesetiaan “Se kan tau beta pung setia" yang artinya kamu akan tahu kesetiaan saya.

Ini menunjukkan bahwa dalam hati, meski telah dikhianati atau dilukai, ada komitmen yang sulit untuk dihapus.

Lagu ini mengungkapkan bahwa kesetiaan tak selalu berarti dipahami atau dihargai oleh orang lain.

Menjaga Martabat Cinta

Dengan kondisi hati yang terluka, penyanyi masih menyatakan “Beta seng marah,” yang juga menyiratkan bahwa cinta tidak harus diakhiri dengan emosi keras atau pertengkaran.

Ini adalah cara menjaga martabat cinta memilih untuk berdiri dalam tenang, bukan jatuh dalam konflik yang tak perlu.

Lagu ini mengajarkan bahwa tidak semua kesedihan harus dibalas dengan amarah kadang, diam dan ikhlas justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus.

Mitha berhasil menyentuh sisi paling manusiawi dari cinta belajar melepaskan tanpa membenci. (MG EFIONSIE INDRISARI MAY KIHI)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved