3 Puisi Tentang Kenangan Bersama Kakek dan Nenek: Kasih Sayang Tiada Dua
Mereka adalah sosok yang penuh kasih, tempat menemukan pelukan aman selain orang tua, dan nasihat bijaksana
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Masa bersama kakek dan nenek sering kali menjadi bagian paling hangat dalam hidup.
Mereka adalah sosok yang penuh kasih, tempat menemukan pelukan aman selain orang tua, dan nasihat bijaksana.
Namun waktu tak bisa diputar kembali.
Ada kenangan yang tersisa, dan ada rindu yang tak bisa lagi bertemu karena keduanya telah pergi.
Berikut tiga puisi dengan tema kasih sayang, kenangan, dan kerinduan.
Kasih Kakek dan Nenek
Engkau bagai mentari dan rembulan,
Bersinar silih berganti di cakrawala,
Kakek dengan bijak menguatkan langkah,
Nenek dengan lembut menenangkan jiwa,
Dua cahaya dalam satu semesta cinta.
Kata-kata kalian bagai kitab abadi,
Setiap nasihat menuntun ke jalan benar,
Senyum kalian laksana embun pagi,
Menyiram gundah hati yang kering,
Membuat dunia terasa lebih damai.
Oh kakek, oh nenek,
Kasihmu tiada tara sepanjang masa,
Bukan harta, bukan tahta,
Melainkan cinta yang sederhana,
Namun abadi di dada cucu-cucumu.
Madu Kenangan
Di teras rumah tua yang penuh bunga,
Aku duduk di pangkuan nenek tercinta,
Mendengar dongeng yang tiada habis,
Sementara kakek mengembangkan korannya,
Senyumnya teduh bagai langit sore.
Kami berjalan di pematang sawah,
Tangan kakek menggenggam erat,
Nenek menyiapkan bekal sederhana,
Nasi hangat, sayur, dan sambal pedas,
Kenangan itu harum bagai melati.
Kini setiap sudut rumah terasa bercerita,
Ada jejak tawa, ada bayang langkah,
Masa itu bagai pelangi di hatiku,
Indah, singkat, namun tak terlupa,
Mengiringi hidupku selamanya.
Kerinduan Setelah Kepergian
Di pusara yang sunyi aku termenung,
Bunga melati kuletakkan dengan gemetar,
Kakek dan nenek, kalian telah jauh,
Namun wajahmu tetap hidup di hati,
Mengiringi langkah dalam doa yang lirih.
Rinduku bagai ombak di samudra,
Tak pernah padam, selalu bergelora,
Malam-malamku sering diselimuti sepi,
Mengingat cerita yang tak terulang lagi,
Hanya air mata jadi pengganti peluk.
Wahai kakek, wahai nenek,
Meski raga kalian telah sirna,
Kasih sayangmu kekal di jiwa,
Menjadi bintang penuntun malamku,
Hingga kelak kita jumpa kembali.
(MG Alliya Miranti Armansyah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Arti-mimpi-pergi-ke-rumah-kakek.jpg)