Puisi
4 CONTOH Puisi Tema Tentang Kerusakan Alam
Kelestarian alam perlu dijaga agar penduduk bumi dimasa depan dapat hidup di bumi yang nyaman dan sehat.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM – Tuhan menciptakan alam dengan sangat kompleks dan saling berkaitan.
Alam telah menyediakan seluruh kebutuhan yang dibutuhkan manusia dari hal kecil hingga hal besar.
Kendati demikian, manusia tidak berusaha untuk menjaga kelestariannya.
Tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi, manusia merusak lingkungan secara masif.
Penebangan hutan liar, pencemaran udara, pencemaran air, pembuangan sampah sembarangan, penutupan lahan resapan, penggunaan plastik berlebihan adalah wujud nyata aktivitas perusakan lingkungan.
Kelestarian alam perlu dijaga agar penduduk bumi dimasa depan dapat hidup di bumi yang nyaman dan sehat.
Baca juga: Kumpulan Puisi 3 Bait untuk Guru Kesayangan yang Memasuki Masa Pensiun
Berikut 4 puisi tentang keresahan akibat kerusakan alam.
Rindu Hutan yang Hilang
Aku berdiri di tepi sunyi
Menatap batang-batang rapuh yang rebah
Daun-daun gugur tanpa sempat bernyanyi
Hutan berubah jadi luka merah
Suara burung sirna dari ranting
Jejak rusa hilang ditelan mesin
Angin pun kini terdengar asing
Membawa debu, bukan kesejukan yang manis
Hatiku resah, siapa peduli?
Akar-akar tercabut dari bumi
Air sungai keruh menahan tangis
Bumi menua tanpa janji manis
Oh, hutan… rumah kehidupan,
Kau ditebang tanpa belas kasihan,
Tinggal rindu yang terpendam,
Aku berdoa semoga ada tangan penyelamat kemudian.
Air yang Menangis
Aku berdiri di tepi sungai
Airnya keruh bagai wajah berduka
Ikan-ikan mengambang tanpa nyawa
Riaknya tak lagi berbisik lembut
Hanya bau pahit menusuk jiwa
Dulu bening, tempat anak-anak tertawa
Kini penuh limbah, beracun dan luka
Bayangan langit pun enggan bercermin
Mata air seakan berhenti bermimpi
Meratap pilu dalam diam yang panjang
Hatiku gelisah menatap aliran muram,
Air urat nadi kehidupan perlahan sekarat,
Siapa yang peduli pada tangis yang tertahan?
Andai manusia mau berhenti buta,
Sungai akan kembali bernyanyi bersama bumi.
Ketika Langit Tersedak
Langit kelabu, sesak dan muram
Awan tak lagi berwajah ramah
Udara kotor menutup harapan
Napas terasa bagai dipenjara
Angin pun kehilangan nyanyian lembutnya
Aku merindukan aroma pagi
Segar embun yang dulu menyejukkan
Kini terganti asap dan debu tajam
Burung-burung pun enggan terbang tinggi
Seolah takut pada racun yang tak terlihat
Hatiku sedih, bumi menangis
Anak-anak tumbuh dengan paru-paru letih
Siapa lagi yang akan menjaga langit ini?
Jika udara terus diperlakukan begini
Apakah masih ada masa depan yang bersih?
Sampah di Mata Bumi
Jalanan penuh wajah muram
Sampah berserakan menutup tanah
Daun kering bercampur plastik usang
Angin tak lagi membawa segar
Hanya bau busuk menusuk jiwa
Aku gelisah melihat taman tercemar
Bunga-bunga malu menundukkan kepala
Sungai tercekik oleh botol dan kaleng
Langkah pun terasa berat melewati
karena bumi berubah jadi tempat luka
Oh manusia, ke mana nurani?
Bumi menangis dalam tumpukan sisa
laut dan tanah menjerit bersama
andai sampah ini bisa jadi kata
pasti ia berteriak minta dibebaskan
(MG Aliya Miranti Armansyah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-alamm.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.