Solo Exhibition Nindityo Adipurnomo Lewat Criminal Cabinet

Pameran bertajuk ‘Criminal Cabinet’ ini digelar di Ark Galerie, Jl Suryodiningratan 36A, Yogyakarta.

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
dokumentasi ark galerie
Pameran bertajuk ‘Criminal Cabinet’ ini digelar di Ark Galerie, Jl Suryodiningratan 36A, Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM - Di ranah seni rupa Indonesia nama Nindityo Adipurnomo sudah tak asing lagi.

Banyak karya-karyanya yang telah dikoleksi oleh museum dan galeri ternama Internasional, antara lain Queensland Art Gallery Brisbane, Australia, Fukuoka Asian Art Museum Japan, Vallentine Willy Art Gallery Malaysia, dan Municipal of Filderstadt Jerman dan National Gallery of Singapore.

Nindityo tidak hanya aktif sebagai seniman rupa.

Bersama Mella Jaarsma, ia mendirikan Galeri Cemeti (sekarang bernama Rumah Seni Cemeti) pada tahun 1988, 1995, 2010 menjadi bagian dari pendirian dan kepengurusan Yayasan IVAA dan Yayasan Bienale Yogyakarta, beberapa institusi yang menaruh perhatian utama pada stimulasi praktik kerja kesenian, wacana dan manajemen seni yang sampai kini telah menjadi salah satu institusi ternama dalam perkembangan praktik seni rupa Indonesia.

Kini seniman yang juga banyak menginisiasi proyek seni partisipasi emansipatoris bersama apresian seni, baik individu maupun kelompok, lokal dan internasional ini kembali menggelar pameran tunggal.

Pameran bertajuk ‘Criminal Cabinet’ ini digelar di Ark Galerie, Jl Suryodiningratan 36A, Yogyakarta.

Melalui ‘Criminal Cabinet’ Nindityo mempresentasikan gagasan baru dan membangun kembali interpretasi atas karya karya lama seorang seniman.

Lebih dari delapan karya lamanya yang dianggap telah membangun mitos pewacanaan melalui, baik eksekusi artitstik maupun estetika yang telah ‘dikukuhkan’ sendiri oleh pemirsa, dalam proyek ini; ‘dipergunakan/dieksploitasi kembali’ oleh Nindityo.

Hanya ada sedikit perubahan pada konsep maupun eksekusi artistiknya.

Sebaliknya, Nindityo hanya mempertemukan, mengadu dan mejukstaposisi karya karya tersebut; menghubungkan jaringan antar narasi secara lebih kompleks dan dinamik “abstract superimpose”

Proyek ‘Criminal Cabinet’ ini juga menghadirkan ketegangan antara melihat karya sebagai artefak, karya sebagai material dalam minimnya eksekusi artistik, dan mengajak penonton untuk aktif berkelana dalam keterhubungan antar narasi serta wacana melalui QR Code sebagai representasi virtual wacana kesenian.

Selain instalasi ‘criminal cabinet’ dimana ia mengelola karya karya lama terpilihnya, Nindityo juga mempresentasikan serangkaian karya karya dua dimensi di atas kertas dan tikar mendong berukuran besar, yang ia beri judul seri ‘post colonial still life’.

Karya-karya dua dimensi tersebut, ia olah mengunakan teknik representasi ‘gambar bentuk’ atau still life. Lalu ia kaitkan dengan gagasan simbolisme kesehariannya sebagai individu yang dibentuk oleh budaya visual.

Ia menyusun dan mensiluetkan kolase dari produk citra rupa foto-foto yang ia kumpulkan secara personal, yang berbasis pada peristiwa biasa sehari hari.

Seri ‘post colonial still life’ sengaja ia pajang di ruang pamer dengan cara yang tidak lazim, bukan sebagai obyek ‘fetis’, tetapi sebagai elemen pemantik eksplorasi perspektif bagi para pemirsa.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved