250 Peserta Ikuti Kompetisi Tatto di Magelang

Tattoo atau tato bagi sebagian orang masih memiliki image negatif, seperti anak nakal, preman, dan kriminalitas.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja.com, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG-  Tattoo atau tato bagi sebagian orang masih memiliki image negatif, seperti anak nakal, preman, dan kriminalitas. Namun, sekelompok anak muda di Magelang menyelenggarakan kegiatan pameran tato berskalanasional di Gedung serbaguna Tri Bhakti Kota  Magelang. Acara bertajuk "The Body Art" itu diikuti oleh 250 seniman tattoo untuk menampilkan karya terbaik mereka.

RIBUAN orang memenuhi gedung Tri Bhakti, Minggu (31/8/2014).
Pakaian, hingga gaya rambut mereka nyentrik. Di beberapa bagian tubuh mereka, tampak dihiasi gambar tato beraneka ragam. Beberapa dari orang
tersebut juga mengenakan anting dan aksesoris tindik lainnya di
beberapa bagian seperti wajah.

Sementara, ratusan seniman tato sibuk mendesain gambar di bagian tubuh pengunjung yang menjadi model untuk lomba tato tersebut. Di salah satu
stan, dua orang seniman tato tampak sibuk menggoreskan warna di dada seorang model pria. Dua seniman tato ini menggunakan cara tradisional
untuk menggambar tubuh pria tersebut.

Pada saat ratusan seniman lain mendesain tato dengan mesin yang modern, dua seniman tato ini mempertahankan cara tradisional. Cara tato tradisional ini, biasanya dilakukan oleh orang yang berasal dari suku Dayak dan Mentawai.

Seniman dari Durga Tato yang merupakan spesialis tato tradisional tersebut, menggores tinta pewarna ke tubuh pria tersebut dengan memukul jarumnya. Mirip seperti menatah kayu. Meski demikian, pria
tersebut tampak menikmati proses kreatif tersebut, dan tidak mengerang kesakitan.

"Ini merupakan bukti bahwa nenek moyang Indonesia sudah mengenal tato sejak dulu. Ini juga merupakan seni asli Indonesia," kata Ketua Penyelenggara acara The Body Art #4, Fajar Prasetya kepada Tribun Jogja.

Pria berusia 30 tahun yang akrab dipanggil Shua ini memaparkan, dalam sejarahnya, suku Dayak dan Mentawai merupakan suku yang mengenal tradisi tato atau rajah ini. Menurut Shua, suku-suku tersebut menggunakan getah tumbuhan sebagai pewarna tato.

Adapun berdasarkan sumber dari Wikipedia, menurut sejarah, ternyata rajah tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM (sebelum Masehi). Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Dan konon, hal itu dianggap yang menjadikan tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satunya suku Indian di
Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, lalu berkembang ke seluruh
suku-suku dunia salah satunya suku Dayak di Kalimantan.
Tato dibuat sebagai suatu simbol atau penanda, dapat memberikan suatu

kebanggaan tersendiri bagi si empunya dan simbol keberanian dari si pemilik tato. Sejak masa pertama tato dibuat juga memiliki tujuan demikian. Tato dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri.

Shua mengatakan, dengan diselenggarakannya acara ini, dia juga ingin memperkenalkan bahwa tato tidak identik dengan kriminalitas, premanisme, dan kenakalan remaja. Dari kegiatan yang diselenggaran untuk memperingati ulang tahun Indonesia Subculture (ISC) ke 10 ini, pihaknya ingin mengenalkan jika tato merupakan seni dan karya seni.

"Tato itu bukan preman tapi seni melukis tubuh. Ini yang kami bangun
untuk persepsi positif di masyarakat," paparnya.

Rokok dan Minuman Keras

Pria berputra dua ini memaparkan, selain ada kompetisi menato yang
diikuti oleh 250 peserta dari wilayah Indonesia, ada pula pameran tato dan kegiatan lainnya. Hanya saja, saat memasuki gedung pameran
tersebut, pengunjung tidak diperkenankan merokok, minum-minuman keras dan memakai obat terlarang.

"Ini aturan kami agar semua berjalan tertib," papar seniman tato asal Trasan, Kecamatan Bandongan ini. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved