UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tegaskan Tidak Ada Program Dapur MBG
Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga memasang spanduk penolakan kampus menjadi dapur MBG Senin malam
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- DEMA UIN Sunan Kalijaga memasang spanduk penolakan kampus menjadi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (1/6/2026) malam.
- Spanduk tersebut dipasang karena mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khawatir kampusnya akan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
- Pasalnya, muncul kekhawatiran belum lama ini ada informasi Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pertemuan tertutup dengan kampus dan perwakilan mahasiswa.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga memasang spanduk penolakan kampus menjadi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (1/6/2026) malam.
Pemasangan spanduk tersebut dilakukan karena mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khawatir kampusnya akan mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kekhawatiran tersebut muncul lantaran belum lama ini ada informasi Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pertemuan tertutup dengan kampus dan perwakilan mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Mochamad Sodik mengatakan UIN Sunan Kalijaga tidak memiliki program dapur Makan Bergizi Gratis.
"Berdasarkan jawaban dari pimpinan kami, UIN Sunan Kalijaga tidak ada program atau kegiatan membuat dapur MBG," katanya, Selasa (2/6/2026).
Ia mengakui ada pertemuan dengan BGN. Namun pertemuan tersebut bukan membahas penyelenggaraan program MBG oleh kampus.
Pertemuan tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan seminar dan penelitian tentang efektivitas program MBG.
Menurut dia, pertemuan tersebut masih penjajakan awal. Pihaknya pun masih mempelajari dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Terkait pertemuan dengan Badan Gizi Nasional (BGN), dapat kami sampaikan bahwa BGN melakukan penjajakan kepada berbagai perguruan tinggi, termasuk UIN Sunan Kalijaga, mengenai kemungkinan penyelenggaraan seminar dan penelitian tentang dinamika serta efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG)," terangnya.
"Pertemuan tersebut bukan membahas penyelenggaraan Program MBG oleh kampus. Saat ini masih merupakan penjajakan awal yang akan dipelajari dan dipertimbangkan," sambungnya.
Info pertemuan tertutup BGN
Terpisah, Presiden Mahasiswa DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Diaz Habibie Rahman mengungkapkan pemasangan spanduk tersebut dilakukan karena ada informasi Badan Gizi Nasional (BGN) mengadakan pertemuan tertutup dengan kampus dan perwakilan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
"Sekitar dua mingu lalu ada informasi kampus kalau Juni 2026, BGN bakal datang ke UIN mengadakan seminar atau diskusi publik terkait MBG. Pesertanya sekitar 300 orang, 70 persen mahasiswa. Saya diminta menyiapkan sekitar 100 orang (mahasiswa) yang berani speak up soal penolakan MBG," ungkapnya.
"Tapi ternyata kami dapat kabar BGN udah datang duluan secara tertutup, bersama birokrasi dan beberapa perwakilan mahasiswa. Perwakilan bukan dari DEMA UIN, makanya kami menyayangkan. Ini bukti kalau pengambilan keputusan yang ada di kampus ini tidak partisipatif, tidak inklusif. Padahal mahasiswa merupakan stakeholder juga di kampus dan lembaga resmi yang menjadi representasi mahasiswa di kampus," lanjutnya.
Melihat maraknya kampus yang ditawari menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ia menduga kedatangan BGN ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akan menawarkan hal yang sama.
DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pun secara tegas menolak kampus mengelola MBG. Alasannya, perguruan tinggi merupakan tempat mematangkan pikiran, bukan makanan.
Di samping itu, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dipandang tidak memiliki relevansi dengan MBG. Apalagi tidak ada program studi yang berkaitan langsung dengan pengelolaan dapur MBG.
"Kampus tidak sepatutnya menjadi dapur MBG. Kami menilai prasarana dan sumber daya yang ada di UIN ini belum memenuhi kapasitas untuk menerima sebagai mitra MBG," ujarnya.
Menurut dia, kampus tidak bisa terlibat secara langsung dalam mengelola SPPG. Alih-alih menjadi dapur MBG, kampus dapat mendukung MBG melalui riset guna perbaikan program.
| Gelandang PSIM Yogyakarta Rahmatsho Kembali Perkuat Timnas Tajikistan |
|
|---|
| Suksesi Kursi Rektor UII Yogyakarta, Hari Purnomo Resmi Gantikan Fathul Wahid |
|
|---|
| Berkas Perkara Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta Dilimpahkan ke Kejaksaan, Selanjutnya Apa? |
|
|---|
| Pencetak Gol Terbaik Super League Ungkap Masa Depannya di PSIM Yogyakarta |
|
|---|
| UAJY Tegaskan Komitmen Integritas dan Telusuri Afiliasi Kampus di Konferensi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/UIN-Sunan-Kalijaga-Raih-Peringkat-37-Dunia-QS-World-University-Rankings.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.