Ribuan Lampion Waisak 2570 BE Terangi Langit Borobudur

Momen pelepasan lampion yang dikenal sebagai "Light of peace" itu berlangsung khidmat dan menjadi salah satu rangkaian paling dinanti

Tayang:
Penulis: Yuki Pramudya | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Yuki Pramudya
LAMPION TERBANG: Ribuan lampion diterbangkan di Candi Borobudur, pada Minggu malam. 
Ringkasan Berita:
  • Festival Light of Peace atau pelepasan ribuan lampion menghiasi langit malam Candi Borobudur pada puncak perayaan Waisak 2570 BE.
  • Nama festival diubah dari lampion menjadi Light of Peace sebagai bentuk refleksi untuk membawa pesan perdamaian bagi dunia yang sedang memanas.
  • Sebelum lampion diterbangkan bersama doa dan harapan, para peserta terlebih dahulu diajak mengikuti meditasi untuk menemukan kedamaian diri.

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ribuan lampion menghiasi langit malam kawasan Candi Borobudur dalam kegiatan puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) Tahun 2026, Minggu (31/5/2026). 

Momen pelepasan lampion yang dikenal sebagai "Light of peace" itu berlangsung khidmat dan menjadi salah satu rangkaian paling dinanti dalam perayaan Waisak nasional.

Pelepasan lampion di Candi Borobudur, pada Minggu malam.
Pelepasan lampion di Candi Borobudur, pada Minggu malam. (Tribun Jogja/Yuki Pramudya)

Sejak sore hari, ribuan umat Buddha, wisatawan, serta masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan Marga Utama Candi Borobudur untuk mengikuti festival yang menjadi ikon perayaan Waisak di Borobudur tersebut.

Lampion-lampion membubung tinggi

Saat malam mulai turun, suasana berubah hening. Lampu-lampu diredupkan, doa-doa dipanjatkan, lalu ribuan lampion dilepaskan secara serentak ke angkasa malam. 

Cahaya keemasan yang perlahan membubung tinggi menciptakan panorama spektakuler di atas siluet megah Candi Borobudur. Banyak peserta tampak terharu ketika lampion yang mereka pegang bersama mulai terbang membawa doa dan harapan yang sebelumnya dituliskan pada kartu harapan atau *wishing card*.

Ketua Panitia Light of Peace, Fatmawati mengatakan agenda pelepasan lentera selalu menjadi momen yang paling dinanti masyarakat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Betul sekali, acara lentera dunia atau lampion memang selalu dinanti semua orang, khususnya di Candi Borobudur. Setiap orang pasti ingin datang melihat event lampion di Borobudur,” ujarnya.

Menurut Fatmawati, panitia sengaja mengganti istilah “lampion” yang digunakan tahun-tahun sebelumnya menjadi Light of Peace atau Cahaya Perdamaian Dunia. Pergantian nama tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai refleksi terhadap kondisi dunia saat ini.

“Kita ganti nama. Kalau tahun lalu memakai nama lampion, sekarang menjadi Light of Peace. Di berbagai belahan dunia situasi ekonomi dan politik sedang memanas, sehingga kita merasa dunia membutuhkan pesan perdamaian,” katanya.

Terbang membawa doa

Prosesi Light of Peace, lanjutnya, tidak hanya sekadar menerbangkan lentera ke langit malam Borobudur. Seluruh peserta terlebih dahulu diajak mengikuti meditasi dan duduk hening untuk menemukan kedamaian dari dalam diri masing-masing.

“Lampion yang kami terbangkan tadi saya sertai dengan doa, doa untuk pribadi saya dan juga doa untuk untuk negeri ini supaya lebih maju dan juga semoga semakin perdamaian dunia," ujar Deni peserta asal Tangerang.

Ia pun mengaku sengaja datang ke Borobudur untuk ikut serta menerbangkan lampion saat perayaan waisak ini.

Peserta lainnya asal Samarinda, Steven mengaku kehadirannya di Borobudur sekaligus untuk mengikuti perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Budhis Era sekaligus ikut menerbangkan lampion.

"Puas banget bisa ikut serta menerbangkan lampion karena ini kan setahun sekali dan ini sudah kali kedua saya ikut," Jelasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved