Respons Wali Kota Jogja soal Wacana BGN Optimalkan Kantin Sekolah dalam Program MBG

Hasto menilai rencana itu bisa jadi angin segar untuk efisiensi anggaran negara, sekaligus momentum peningkatan kualitas

Tayang:
Penulis: OSE | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Alexander Aprita
Foto dok ilustrasi mobil Badan Gizi Nasional (BGN). 

TRIBUNJOGJA.COM - Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo merespons rencana BGN untuk mengoptimalkan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program MBG.

Hasto menilai rencana itu bisa jadi angin segar untuk efisiensi anggaran negara, sekaligus momentum peningkatan kualitas dan standarisasi kesehatan kantin di lingkungan sekolah.

Ia menilai positif bila manajemen operasional MBG didesentralisasikan hingga ke tingkat sekolah dengan memanfaatkan fasilitas kantin.

Membina kantin sekolah

Apalagi, menurut Hasto, dalam kurun beberapa waktu terakhir, pemerintah pusat sudah menunjukkan kemampuannya dalam membentuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

​"Kalau bisa membentuk SPPG bisa, kenapa enggak membina kantin? Kan itu tergantung goodwill-nya bagaimana kita ingin membikin sekolah yang sehat dengan kantin yang sehat," ujarnya, Selasa (9/6/26).

​Hasto tidak menampik, bahwa saat ini masih banyak kantin sekolah yang kondisi higienitas dan pemenuhan gizinya belum ideal.

Pelibatan kantin dalam Program MBG ini pun dinilai sebagai pemantik yang sangat baik untuk mendorong perbaikan kualitas kantin sekolah.

​"Kantin sekarang kan juga banyak yang belum sehat. Makanya, saya kira itu spirit yang bagus banget, semoga bisa ya. Mudah-mudahanlah," tambah Wali Kota.

​Hasto juga menyoroti sisi manajemen pengawasan Program MBG, yang rentang kendali dari pemerintah pusat hingga ke daerah terlalu jauh jika seluruh keputusan dan komando dilakukan secara terpusat.

​Ia mengusulkan agar Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) didesentralisasikan ke pemerintah daerah, salah satunya melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus (DAK).

​"Dana Alokasi Khusus itu kan pengguna anggarannya pemerintah daerah, kuasa pengguna anggarannya bisa kepala-kepala dinas. Sehingga, pengawalannya, rantai kendalinya dekat, dan berbagi risiko. Kalau ada risiko, kan daerah ikut bertanggung jawab," jelasnya.

​Ia menilai, pelibatan pemerintah daerah akan sangat membantu meringankan beban pimpinan di tingkat nasional dalam mengawasi jutaan anak penerima manfaat hingga ke tingkat kelurahan.

​"Saya tidak bisa membayangkan ya, kalau jadi kepala di pusat terus harus mengendalikan semua seluruh Indonesia sampai di tingkat kelurahan itu. Berat sekali," tuturnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved