Fenomena Api di Seyegan

Menanti Kepastian Ilmiah Terkait Fenomena Api di Seyegan

Total hingga Senin (8/6/2026) petang sudah ada 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani di Kasuran, Kalurahan Margomulyo.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja
Api muncul membakar tumpukan kayu di Seyegan Sleman. Teror api belum berhenti, Minggu (7/6/2026). 

Ini sejalan dengan alat pemindai bumi atau georadar yang telah dilakukan di seputar area rumah korban untuk mendeteksi keberadaan sesar, patahan atau retakan struktur bumi. 

Jalur retakan ini dicurigai menjadi pipa alami yang mengalirkan gas alam dari perut bumi ke dalam rumah Agus Yani.

Kendati demikian, BRIN dihadapkan dengan tantangan teknis. 

Untuk memastikan jenis gas yang menjadi bahan bakar fenomena ini,--apakah gas metana atau hidrogen,--tim mau tidak mau harus melakukan sampling atau pengambilan sampel udara di dalam ruangan.

Tantangannya, konsentrasi gas di lokasi terpantau sangat rendah sehingga menyulitkan proses pengambilan sampel. 

Selain itu, fasilitas laboratorium kromatografi gas di DIY dinilai belum siap untuk pengujian ini. 

"Kami punya alat di Jakarta, (tapi) mungkin akan sulit ya membawa sampling gas ke Jakarta. Nah, nanti kita diskusikanlah untuk itu. Tetapi, untuk mengetahui jenis gasnya, mau tidak mau kita akan lakukan sampling," kata Hari. 

Titik api yang muncul di rumah Agus Yani ini merupakan fenomena langka, karena gas bisa menyala di suhu ruangan rendah. 

Bahkan, diakui peneliti BRIN, ini adalah kasus pertama yang mereka tangani di Indonesia. 

Kemunculan gas rawa di alam terbuka mungkin sudah lazim ditemukan, namun kasus material yang terbakar sendiri di dalam rumah tanpa pemantik api jelas menjadi teka-teki besar yang kini coba dipecahkan oleh para peneliti.

Pasang CCTV

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memasang kamera closed circuit television (CCTV) di dua titik strategis di rumah Agus Yani. 

Hasil rekaman kamera pengintai ini diharapkan dapat menjadi bahan ilmiah untuk mengungkap awal mula kemunculan 'teror api' yang terus melanda rumah dua lantai tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan, pemasangan kamera pengawas ini dilandasi oleh belum adanya saksi mata yang secara langsung melihat detik-detik awal bagaimana munculnya letupan api hingga menyebabkan barang-barang di rumah Agus Yani terbakar. 

Kamera CCTV, yang dilengkapi sensor gerak ini dipasang di dua lokasi strategis. 

"Kami ingin melihat seperti apa toh asal muasal munculnya api itu," ujar Bambang. 

Rekaman visual dari kamera tersebut, kata dia, sangat penting terutama bagi tim ahli. 

Nantinya, data visual tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai alat bukti tambahan untuk penelitian instrumen ilmiah yang valid. 

Untuk tahap awal, BPBD Sleman memfokuskan pengawasan pada area-area yang dinilai paling penting di dalam bangunan, yakni ruang depan dan belakang. 

Kamera yang dipasang sudah dilengkapi teknologi sensor gerak. 

Pemasangan CCTV sensor gerak ini diharapkan dapat langsung menangkap aktivitas tidak wajar atau perubahan termal sekecil apa pun begitu ada pergerakan di area tangkapan kamera. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved