Fenomena Api di Seyegan
Menanti Kepastian Ilmiah Terkait Fenomena Api di Seyegan
Total hingga Senin (8/6/2026) petang sudah ada 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani di Kasuran, Kalurahan Margomulyo.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Pengukuran lateral menggunakan georadar ini diklaim sangat detail karena mampu memindai data per sentimeter.
Nantinya, sebagai penegas sekaligus untuk mengintegrasikan hasil temuan ini, tim UGM menjadwalkan survei lanjutan menggunakan teknik pengeboran manual dan metode geolistrik seperti yang sebelumnya telah dilakukan para peneliti UPN.
Penelitian lanjutan menggunakan metode geolistrik dan pengeboran dibutuhkan untuk memetakan variasi resistivitas batuan sekaligus membuktikan dugaan adanya endapan lempung hitam rawa purba di bawah pemukiman warga.
"(Hasil penelitian) ini kan masih dangkal ya, nanti mungkin berikutnya kalau tidak salah sesuai rencana, kami akan melakukan survei juga geolistrik seperti yang dilakukan oleh UPN. Cuma mungkin jalurnya akan kita konsentrasikan ke sini (sekitar rumah). Kalau UPN kemarin di sana ya, 300 meter belakang rumah. Mungkin nanti kita akan jalan dari sini (depan) ke sana (belakang rumah), dan juga beberapa tempat lah," kata dia.
BRIN turun
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai ikut turun ke lapangan untuk mengungkap fenomena api ini.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno, mengatakan, pihaknya telah diterjunkan untuk melakukan survei awal di lokasi kejadian.
BRIN akan bergerak mengintegrasikan data dengan tim peneliti yang sudah tiba lebih dulu, seperti dari UGM, UPN "Veteran" Yogyakarta, dan lainnya.
"Nanti, dari hasil kunjungan kami ini, selanjutnya kami akan mengadakan diskusi penelitian, apa saja yang sudah dilakukan, dan selanjutnya kami akan melengkapinya.Mungkin kalau ada yang belum dilakukan, nanti kami akan melengkapinya," kata Hari, ditemui di lokasi, Senin.
Meski begitu, Hari meragukan sumber kemunculan api ddipicu oleh gas fosfin (PH3) yang berasal dari limbah pemotongan ayam di sekitar rumah korban, sebagimana analisis awal tim UGM.
Menurut pantauan BRIN, instalasi limbah pemotongan ayam tersebut dikelola secara terbuka.
Artinya, seandainya ada gas organik yang terbentuk dari proses fermentasi, gas itu dipastikan langsung menguap bebas dan ternetralisasi oleh atmosfer, bukan mengendap di bawah tanah.
"Kalau saya melihat dari instalasi limbah pemotongan ayam, kemungkinan bahwa itu adalah dari dekomposisi organik, menurut saya tidak ya. Karena pengelolaan limbahnya itu sudah langsung terbuang ke atmosfer. Dia bukan tertanam di dalam tanah ya. Seandainya terbentuk gas, dia sudah akan lepas ke atmosfer," katanya.
Ambil sampel
Sebagai gantinya, BRIN mulai mengalihkan fokus pada faktor geologis bawah permukaan atau subsurface.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tumpukan-Kayu-Terbakar-Penghuni-Rumah-Berharap-Teror-Api-di-Seyegan-Segera-Berakhir.jpg)