Fenomena Api di Seyegan

Menanti Kepastian Ilmiah Terkait Fenomena Api di Seyegan

Total hingga Senin (8/6/2026) petang sudah ada 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani di Kasuran, Kalurahan Margomulyo.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja
Api muncul membakar tumpukan kayu di Seyegan Sleman. Teror api belum berhenti, Minggu (7/6/2026). 

Berdasarkan analisis sekilas di lapangan, tim peneliti menemukan adanya sinkronisasi kuat antara posisi kemunculan titik api di permukaan dengan struktur retakan di bawah tanah. 

Koordinator Peneliti Lab Geofisika Eksplorasi (DTGL FT) UGM, Saptono Budi Samudro menjelaskan alat georadar berkemampuan sensor tinggi 60 MHz berhasil menangkap pola retakan yang cukup banyak di kedalaman 15-20 meter di bawah lantai urukan dan tanah asli rumah korban. 

Data yang masih bersifat sementara ini, memperlihatkan ada dugaan beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api dengan retakan di bawah rumah Agusyani. 

"Kalau melihat sekilas, belum diolah lebih lanjut, itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah, sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15–20 meter. Jadi, kalau di atas ini (tanah urukan) itu terlihat tadi di alat. Kemudian, di bawah itu masih ada tanah aslinya kan, nah tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono, Senin (8/6/2026). 

Pola struktur retakannya itu muncul di beberapa tempat dan relatif mengarah ke atas. 

Penemuan retakan bawah permukaan ini, untuk sementara, menjadi jawaban logis mengenai bagaimana senyawa gas,--yang selama ini diduga kuat sebagai pemicu terjadinya kebakaran,--bisa naik dan menyulut benda-benda di dalam rumah Agusyani. 

Menurut Saptono, sifat fisik gas tidak membutuhkan ruang yang besar untuk bergerak ke permukaan, sehingga retakan sekecil apa pun dapat menjadi jalur migrasi. 

Apalagi, peneliti menemukan, pola-pola retakan tersebut berdekatan dan diindikasikan kuat berhubungan dengan titik-titik api yang muncul sebelumnya. 

Sumber gas

Namun demikian, retakan di lapisan bawah ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bisa diakibatkan oleh proses dinamika bumi, mengingat wilayah DI Yogyakarta berada dalam zona aktif tektonik. 

Oleh sebab itu, temuan adanya retakan ini baru sebuah jalur sementara yang bisa untuk keluarnya gas ke permukaan. 

Akan tetapi, sumber gasnya sendiri yang diduga menjadi penyebab kebakaran masih harus dibuktikan secara pasti.

"Bisa jadi hanya retakan tapi belum tentu ada gasnya. Maka dari itu, sumber gasnya harus ketemu dulu untuk memastikan. Jika gasnya tidak ada, tentu tidak akan memicu masalah," jelas dia.

Teknologi georadar yang dibawa tim UGM ini bekerja mirip dengan prinsip sonar pada kapal selam, namun menggunakan pancaran gelombang radar yang dikirimkan melalui antena pemancar selebar 2 meter ke dalam tanah. 

Gelombang tersebut kemudian dipantulkan kembali oleh objek atau lapisan bumi dan ditangkap oleh antena yang juga berfungsi sebagai penerima.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved