Fenomena Api di Seyegan

Menanti Kepastian Ilmiah Terkait Fenomena Api di Seyegan

Total hingga Senin (8/6/2026) petang sudah ada 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani di Kasuran, Kalurahan Margomulyo.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja
Api muncul membakar tumpukan kayu di Seyegan Sleman. Teror api belum berhenti, Minggu (7/6/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Upaya mengungkap teka-teki kemunculan fenomena api di rumah Agus Yani Mujiyanto, di Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih berjalan. 

Para peneliti dari lintas instansi masih mencoba mengungkap apa penyebab pastinya.

Untuk diketahui diketahui, titik api di rumah Agus Yani sudah berlangsung selama 17 hari dan masih bermunculan secara acak hingga saat ini. 

Total hingga Senin petang sudah 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani.

Pada Minggu (7/6/2026), titik api muncul lima kali di dapur, halaman belakang, dan ruang tengah. 

Pada Senin (8/6/2026), api muncul pukul 19.15 dan pukul 19.28 di atas sumur, serta pukul 21.28 pada kayu di belakang rumah.

Keluarga Agus Yani kini menggantungkan asa terhadap kepastian hasil investigasi ilmiah agar masalah ini segera menemui titik terang. 

Tim ahli dari UPN, UGM, BPPTKG, BPBD hingga Gegana Satbrimob Polda DIY telah melakukan penelitian dan observasi di lokasi. 

"Semoga ini bisa segera selesai dan segera ketemu apa yang menjadi titik masalah utamanya," harap Mutfiana, anak sang empunya rumah.

Keluarga korban kini hanya bisa bersiap dan berdoa, menanti hasil penelitian para ahli dan langkah konkret dari jajaran pemerintah daerah. 

Sejumlah penelitian dan observasi dari UGM, UPN, Tim Gegana Polda DIY, BPPTKG, dan sejumlah lembaga lain sudah dilakukan sejak pekan kemarin. 

Hasilnya telah dipaparkan bersama BPBD Sleman empat hari lalu di kantor Kapanewon Seyegan, namun penyebab pastinya, sejauh ini belum diketahui. 

Pemindaian

Kabar terbaru, tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah menggunakan teknologi georadar atau geoscanner. 

Pemindaian lapisan tanah ini dilakukan secara hati-hati mulai dari area ruang depan, halaman depan, ruang tengah bahkan hingga bagian belakang rumah di kawasan sekitar Sungai Nepen. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved