Semarakkan Hari Lahir Pancasila Lewat Merti Wayang Beber Pancasila IV dan Kirab Budaya
Mereka mengikuti rangkaian gelaran wayang beber untuk menyemarakkan Peringatan Hari Lahir Pancasila.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Wewangian dupa tercium jelas dari dalam ruangan Museum Wayang Beber Sekartaji (Sanggar Bhuana Alit) Padukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, pada Senin (1/6/2026) sore.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, di lokasi tersebut terlihat sejumlah anak yang mengenakan pakaian tradisional dan diiringi tembang atau nyanyian Jawa. Mereka mengikuti rangkaian gelaran wayang beber untuk menyemarakkan Peringatan Hari Lahir Pancasila.
Demi generasi muda
Penggagas Kampung Pancasila, Indra Suroinggeno, mengatakan, melalui gelaran ini, pihaknya ingin mengajak masyarakat mengenal makna Pancasila lebih dalam guna memperkuat rasa persatuan dan merawat kebinekaan, terutama pada generasi muda.
"Selama ini kita sangat tahu setiap hari kata Pancasila, tapi untuk mengenal Pancasila lebih dalam sendiri itu perlu dilakukan. Maka, hari ini kita menjabarkan bahwa Pancasila juga berkaitan dengan alam," katanya.
Dikatakannya, kegiatan peringatan yang berlangsung di dalam Museum Wayang Beber Sekartaji tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026.
"Kegiatan tadi itu adalah sebuah ruwatan. Ritus ya. Jadi, itulah merti Pancasila. Selama ini, kita tahu ratusan dusun, desa, namanya merti dusun. Namun kali ini menjadi gelaran Merti Pancasila keempat yang menjadi satu-satunya di dunia," ucap dia.
Kirab budaya
Usai gelaran wayang beber, terdapat ratusan warga setempat yang mengikuti kegiatan kirab budaya Aku Bumi dengan mengelilingi perkampungan setempat. Peserta kirab tersebut juga membawa berbagai macam peragaan mulai dari logo Pancasila ukuran kecil dan besar.
Tak lupa, ratusan warga yang mengikuti kirab tersebut turut mengenakan kostum, riasan, serta aksesori layaknya pahlawan terdahulu. Beberapa peserta lainnya, juga ada yang membawa nasi tumpeng yang berisi sayuran dan lauk hasil bumi.
"Setelah selesai keliling, ada teatrikal unik yakni Sutasoma, sang pangeran rembulan yang di sini rohnya Pancasila bertarung melawan Purusada. Purusada itu sebenarnya raja yang baik, tetapi menjadi hobi memakan manusia karena ada tetesan darah di makanannya. Itu yang ada di Kakawin Sutasoma," terangnya.
Peran Sutasoma sendiri untuk meredam ambisi bukan menghilangkan. Namun, dikarenakan Purusada digambarkan ada sampah yakni botol-botol plastik, sehingga anak-anak akan memukul sebagai upaya menyadarkan diri.
Kendati demikian, ia menjelaskan bahwa Peringatan Hari Lahir Pancasila kali ini, sudah dimulai sejak pagi tadi dengan kegiatan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lomba mewarnai wayang, lomba bercerita wayang beber, dan sarasehan.
"Setelah gelaran Wayang Beber, Merti Wayang Beber Pancasila IV dan Kirab Budaya Aku Bumi, akan ada ketoprak yang digelar pada malam hari sebagai penutup acara," tutup dia.(nei)
| Pesan Tegas Bupati Hamenang di Momen Hari Lahir Pancasila 2026: Resapi dan Jalankan Setiap Sila |
|
|---|
| Pemkab Bantul Bakal Terapkan Denda Pelanggaran PBG, Regulasi Baru Segera Disusun |
|
|---|
| Momen Hari Lahir Pancasila, KAI Daop 6 Hadirkan Paduan Suara UAJY Langsung di Stasiun Yogyakarta |
|
|---|
| Aktivasi IKD di Bantul Capai 26 Persen atau Sekitar 195 Ribu Jiwa |
|
|---|
| Detik-detik Dua Pelajar Asal Malang Berhasil Selamat saat Terseret Ombak di Parangtritis Bantul |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Semarakkan-Hari-Lahir-Pancasila-Lewat-Merti-Wayang-Beber-Pancasila-IV-dan-Kirab-Budaya.jpg)