Nelayan di Bantul Sudah Sejak Lama Pilih Pakai BBM Pertalite dan Pertamax, Ini Alasannya

Para nelayan di Bantul sudah lama menggunakan BBM pertalite dan pertamax sehingga mereka tidak terdampak kenaikan harga beberapa waktu lalu. 

Tayang:
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
Foto dok ilustrasi. Perahu nelayan di Pantai Depok Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kenaikan harga solar nonsubsidi tidak mempengaruhi aktivitas nelayan di Pantai Selatan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. 

Pasalnya, sudah sejak lama nelayan di Bantul tidak menggunakan solar sebagai bahan bakar utama mesin kapal.

Sudah lama pakai pertalite dan pertamax

Para nelayan di Bantul sudah lama menggunakan BBM pertalite dan pertamax sehingga mereka tidak terdampak kenaikan harga. 

"Nelayan Bantul, 100 persen bukan pengguna solar. Artinya, armada kita pakai bahan bakar minyak (BBM) pertalite dan pertamax," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Bantul, Suyanto, kepada Tribunjogja.com, Selasa (5/5/2026).

Harga BBM pertalite dan pertamax tidak mengalami kenaikan atau stabil. Di mana, besaran harga BBM itu yakni Rp10 ribu per liter untuk Pertalite dan Rp12.300 per liter untuk Pertamax.

Lain halnya dengan harga solar Dexlite dan BBM nonsubsidi yang naik sejak 18 April 2026 lalu. Sebelumnya, harga Solar Dexlite sejumlah Rp14.200 per liter, naik menjadi Rp23.600 per liter.

Alasan mesin responsif

"Kami milih Pertalite dan Pertamax karena ombak laut yang kita tempuh kan besar. Kadang juga angin. Jadi, kita membutuhkan engine yang ada spontanitas tarikan, kita butuh mesin responsif untuk mengejar jeda ombak," jelasnya.

Lain halnya dengan mesin berbahan bakar solar. Kata Suyanto, mesin berbahan bakar solar tidak memiliki tingkat responsif yang kuat atau baik dalam mengejar jeda ombak laut.

Adapun peralihan penggunaan mesin berbahan bakar Solar ke Pertalite maupun Pertamax sudah berlangsung cukup lama. Namun, ia tidak bisa memastikan tahun peralihan tersebut. 

"Yang jelas sudah lama, semenjak kami pakai mesin perahu dua tak ya kami pakai BBM Pertalite dan Pertamax itu. Enggak pakai Solar," urai dia.

Dalam sekali melaut atau trip berlayar menangkap ikan di laut, kata Suyanto membutuhkan sekitar 10-20 liter. Jumlah kebutuhan BBM itu tergantung jauh atau dekat jarak yang akan ditempuh.

Apalagi, jarak tempuh antar nelayan untuk menangkap hasil tangkapan laut di Pansela Bumi Projotamansari dinilai tidak sama. Belum lagi, setiap perahu yang dipergunakan memiliki kapasitas kekuatan yang berbeda-beda.

"Jadi kita tidak ada dampak sedikit pun dari kenaikan BBM Dexlite. Karena, kami memang memanfaatkan Pertalite dan Pertamax untuk BBM kita melaut," tandasnya.(nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved