Tersembunyi di Sleman, 6 Candi Kuno dan Sejarahnya yang Jarang Diketahui
Tidak hanya Prambanan, Sleman menyimpan candi-candi kuno yang tersembunyi. Terkubur lahar, hingga berdiri di atas bukit dengan sejarah menakjubkan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Sebagian besar candi ditemukan terpendam akibat aktivitas vulkanik Gunung Merapi.
- Dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno dengan latar Hindu dan Buddha.
- Memiliki keunikan arsitektur, relief, hingga lokasi ekstrem yang jarang diketahui publik.
TRIBUNJOGJA.COM – Yogyakarta, khususnya wilayah Kabupaten Sleman, dikenal sebagai salah satu kawasan dengan konsentrasi candi terbanyak di Indonesia.
Sebagian besar candi tersebut dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, dengan latar belakang agama Hindu dan Buddha.
Tidak hanya candi-candi populer seperti Prambanan, Sleman juga menyimpan sejumlah situs purbakala yang jarang diketahui publik.
Namun memiliki sejarah, arsitektur, dan kisah penemuan yang tidak kalah luar biasa.
Beberapa di antaranya bahkan ditemukan dalam kondisi terpendam di bawah tanah akibat aktivitas vulkanik Gunung Merapi.
Baca juga: Cerita Sejarah Desa Pleret Bantul: Bekas Ibu Kota Mataram Islam di Yogyakarta
Berikut enam candi di wilayah Sleman yang jarang terekspos, tetapi menyimpan jejak peradaban kuno yang menakjubkan dan layak untuk dikenali lebih dekat.
1. Candi Ijo
Candi Ijo adalah kompleks percandian bercorak Hindu yang dikenal sebagai candi tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.
Candi ini berdiri di atas Bukit Ijo dengan ketinggian sekitar 410–425 meter di atas permukaan laut.
Dibangun pada abad ke-9 Masehi, Candi Ijo memiliki struktur teras-teras berundak yang mengikuti kontur perbukitan Batur Agung.
Kompleks utama berada di bagian tertinggi sisi timur, sementara bagian barat menyimpan reruntuhan bangunan yang masih dalam proses ekskavasi.
Nama Candi Ijo tercatat dalam Prasasti Poh tahun 906 Masehi sebagai permukiman masyarakat Ijo.
Keistimewaan candi ini terletak pada panorama alamnya yang indah dari ketinggian.
Terlihat hamparan persawahan, Candi Prambanan, Bandara Adisucipto, hingga garis pantai selatan.
Keindahan matahari terbenam menjadikan Candi Ijo destinasi favorit wisata sejarah dan lanskap di Sleman.
2. Candi Sambisari
Candi Sambisari merupakan salah satu peninggalan Hindu abad ke-9 yang memiliki keunikan karena terletak sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah.
Candi ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1966 oleh seorang petani bernama Arjo Wiyono saat mencangkul di sawah.
Posisi candi yang terkubur disebabkan oleh timbunan lahar dingin Gunung Merapi ratusan tahun silam.
Kompleks Candi Sambisari terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara yang tersusun rapi di tiga halaman bertingkat dan dikelilingi tembok.
Candi induk menghadap ke barat dengan struktur batu andesit serta dihiasi relief dan arca panteon Hindu, seperti Durga, Ganesa, dan Agastya.
Di dalam bilik utama juga terdapat lingga dan yoni berukuran besar sebagai simbol kesuburan.
Candi sambisari merupakan Cagar Budaya yang sangat langka dikarnakan jenis rancangannya yang unik dan sedikit jumlahnya di Indonesia.
Candi ini termasuk candi Klasik Tua yang menggabungkan arsitektur bangunan batu dan kayu.
Keunikan arsitektur dan sejarahnya menjadikan Candi Sambisari sebagai destinasi edukatif sekaligus wisata budaya yang menarik.
Lokasinya berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Candi Kedulan
Candi Kedulan sering disebut sebagai saudara Candi Sambisari karena sama-sama ditemukan dalam kondisi terpendam di bawah permukaan tanah.
Situs bercorak Hindu ini terletak di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, tidak jauh dari Candi Kalasan.
Candi Kedulan diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Bangunan candi ditemukan secara tidak sengaja pada 24 November 1993 oleh para penambang pasir.
Terkubur sedalam tiga hingga tujuh meter akibat timbunan lahar letusan besar Gunung Merapi pada awal abad ke-11.
Secara arsitektur, Candi Kedulan memiliki kemiripan dengan Candi Sambisari, namun menghadap ke arah timur.
Hal ini berdasarkan temuan arca Ganesa yang berada di sisi barat candi.
Temuan prasasti tentang sistem irigasi kuno menunjukkan tingginya peradaban pertanian masa itu.
Berbagai arca Hindu seperti Lingga-Yoni, Durga, Ganesa, dan Agastya juga turut memperkaya nilai sejarah situs ini.
4. Candi Morangan
Situs purbakala yang bercorak Hindu ini terletak di Dusun Morangan, Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.
Candi ini ditemukan dalam kondisi terpendam sekitar 2,5 meter di bawah permukaan tanah akibat erupsi Gunung Merapi.
Diperkirakan dibangun pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Candi Morangan berada tidak jauh dari aliran Kali Gendol dan kini dikelilingi permukiman warga.
Kompleks candi terdiri atas satu candi induk dan satu candi perwara yang disusun dari batu andesit.
Keunikan utama Candi Morangan terletak pada reliefnya yang indah dan detail.
Terutama relief fabel Tantri Kamandaka yang jarang dijumpai pada candi Hindu.
Meski belum sepenuhnya dipugar, relief-relief yang menggambarkan kehidupan religius, simbol kerajaan, dan kisah moral.
Masih dapat diamati dan menjadi daya tarik utama situs ini.
4. Candi Kalasan
Candi Kalasan merupakan candi bercorak Buddha tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibangun sekitar tahun 778 Masehi.
Candi ini terletak di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.
Keberadaan Candi Kalasan berkaitan erat dengan Prasasti Kalasa yang berbahasa Sanskerta.
Mencatat tentang pembangunan kuil Dewi Tara atas jasa Maharaja Panangkaran.
Kuil tersebut dikenal dengan nama Tarabhawana dan berfungsi sebagai wihara sekaligus pusat kegiatan keagamaan.
Secara arsitektural, Candi Kalasan memiliki tubuh berdenah bujur sangkar dengan pintu di keempat sisinya, serta dikelilingi 52 stupa kecil.
Keistimewaan candi ini terletak pada lapisan bajralepa, yakni semen kuno yang melapisi relief halus pada dinding candi sehingga tampak rapi dan tahan lumut.
Nilai sejarah dan arsitektur Candi Kalasan menjadi warisan budaya penting yang perlu dikenalkan kepada generasi penerus bangsa.
6 . Candi Abang
Candi Abang merupakan situs cagar budaya unik di Kabupaten Sleman yang dikenal karena material penyusunnya berupa bata merah.
Berbeda dari mayoritas candi di Yogyakarta yang menggunakan batu andesit.
Situs ini terletak di Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, dan kini tampak seperti gundukan bukit hijau yang dijuluki Bukit Teletubbies.
Berdasarkan laporan arkeologis sejak tahun 1915, di lokasi ini pernah ditemukan lingga, arca Buddha, serta prasasti pendek bertarikh 872 Masehi.
Hasil penggalian menunjukkan bahwa Candi Abang terdiri atas satu bangunan utama dengan satu halaman seluas sekitar 65 x 64 meter.
Meski belum diteliti secara menyeluruh, Candi Abang menyimpan nilai sejarah penting sebagai jejak peradaban kuno di Sleman yang masih menunggu pengungkapan lebih lanjut.(MG Khoirunnida)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/suasana-candi-ijo-saat-matahari-terbenam.jpg)