UGM Bangun 100 Huntara di Aceh Utara, Pakar Ingatkan Risiko Bencana Susulan

UGM membangun Huntara sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.

Tayang:
Tribunjogja.com/IST
Pekerja menyelesaikan pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir bandang di Aceh Utara. Universitas Gadjah Mada membangun 100 unit Huntara sebagai bagian rehabilitasi pascabencana, dengan penekanan pada aspek keselamatan karena potensi bencana susulan masih tinggi. 

Inspeksi diperlukan untuk mengidentifikasi zona rawan berupa tumpukan sedimen longsoran maupun rontokan batuan yang berpotensi menyumbat aliran sungai dari arah hulu.

“Tanpa pemantauan yang memadai di wilayah hulu, ancaman banjir bandang sering kali datang tiba-tiba dan sulit terdeteksi dari wilayah hilir. Padahal, tanda-tanda awalnya dapat dikenali lebih dini melalui inspeksi berbasis teknologi,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan sistem peringatan dini multibencana di setiap daerah aliran sungai (DAS) yang rawan, agar masyarakat dapat memperoleh informasi dan peringatan lebih cepat.

Di sisi lain, edukasi dan literasi kebencanaan kepada masyarakat harus dilakukan secara sistematis, rutin, dan berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan ketangguhan wilayah rawan bencana.

“Literasi kebencanaan adalah fondasi utama agar upaya mitigasi benar-benar mampu menyelamatkan nyawa,” tegas Dwikorita.

Ia menegaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tidak sekadar membangun kembali secara cepat, melainkan membangun dengan lebih baik atau build back better.

“Setiap pembangunan pascabencana didasarkan pada pembelajaran dari kejadian sebelumnya, analisis risiko yang matang, serta pemulihan lingkungan yang menyeluruh, sehingga masyarakat tidak kembali menjadi korban pada bencana berikutnya,” ujarnya. (*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved