Pemkot Yogya Mulai Jemput Bola Sampah Organik Kering, Terkumpul 4 Ton di Hari Pertama

DLH Kota Yogyakarta mulai menggulirkan skema penjemputan sampah organik kering di kantor-kantor kelurahan

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
JEMPUT BOLA : Petugas DLH melakukan jemput bola pengangkutan sampah organik kering di Kantor Kelurahan Warungboto, Kota Yogyakarta, Senin (5/1/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mulai menggulirkan skema penjemputan sampah organik kering di kantor-kantor kelurahan, Senin (5/1/2026). 

Langkah itu diambil sebagai tindak lanjut kebijakan larangan pembuangan sampah organik ke depo yang telah berlaku sejak 1 Januari 2026.

​Pantauan di Kantor Kelurahan Warungboto, sejumlah petugas tampak mengangkut tumpukan karung berisi dedaunan kering yang dikumpulkan oleh warga. 

Kabid Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, Supriyanto, mengungkapkan, pada hari pertama, pihaknya menyasar 10 titik kelurahan.

​"Hari ini ada 10 titik kelurahan yang kita jemput, mulai dari Pandean, Pakualaman, Ngampilan, hingga Wirobrajan. Rata-rata satu titik seperti ini ada 10 karung, kalau ditimbang sekitar 2 kuintal organik kering saja," ujarnya.

​Ia memprediksi, total volume sampah organik kering yang bisa terangkut pada hari perdana ini mencapai 3 hingga 4 ton, dan diyakini akan terus meningkat.

Baca juga: Antisipasi Pembuangan Sampah Liar, Satpol PP Perketat Pengawasan di Area Jembatan GL Zoo

​Menurutnya, selain sampah kering, gerakan pengumpulan sampah organik basah melalui ember-ember rumah tangga juga menunjukkan progres signifikan. 

Tercatat, sampai sejaih ini, sudah ada 1.090 ember yang terdata, dengan total volume sampah yang didominasi sisa makanan, mencapai 25 ton per hari.

Efeknya pun mulai terasa di tingkat depo, karena limbah organik basah yang selama ini menjadi biang aroma tidak sedap dan cairan lindi, kini berkurang drastis.

​"Sekarang bisa dilihat, depo-depo lebih bersih, tidak bau, dan lindinya sudah tidak ada, karena sampah pemicu baunya sudah kita eliminir sejak awal," tuturnya.

​Bagi masyarakat yang masih bingung mengenai teknis pembuangan, Supriyanto meminta warga untuk aktif berkomunikasi dengan petugas Jumilah atau Juru Pemilah Sampah. 

Ia memastikan, di setiap kelurahan, sudah ada sedikitnya dua orang Jumilah yang bertugas menjembatani informasi antara warga dan DLH.

​"Prinsipnya, kalau bingung bisa hubungi perwakilan Jumilah di setiap wilayah. Nanti datanya dimasukkan ke grup koordinasi, lalu tim teknis kami akan terjun menjemput ke titik yang sudah di-list," cetusnya.

​Mengenai hilirnya, DLH telah membagi alur pengolahan, di mana sampah organik basah akan dibeli oleh para peternak untuk dijadikan pakan.

Sementara sampah organik kering berupa dedaunan akan dibawa ke fasilitas pengolahan untuk diproses menjadi kompos melalui Unit Pupuk Organik (UPO).

​"Untuk penjemputan sampah kering ini, kami jadwalkan rutin setiap hari Senin dan Jumat. Silakan warga berkoordinasi dengan Jumilah di wilayahnya," pungkasnya. (aka)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved