Patung Laba-laba Karya Dosen ISI Yogyakarta Tembus Pameran Internasional Shanghai
Patung karya Dosen ISI Yogyakarta dinilai memiliki perpaduan antara estetika organisme alam dan material industri yang keras dan usang.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Seni patung karya Dosen ISI Yogyakarta, Lutse Lambert Daniel Morin, berhasil tembus Pameran Seni Rupa Tradisional Internasional ke-15 di Shanghai Art Collection Museum
- Karya patung laba-laba itupun mencuri perhatian sejumlah seniman
- Patung karya Dosen ISI Yogyakarta dinilai bisa menjadi inspirasi dan menyampaikan beberapa pesan
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Seni patung karya Dosen Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Lutse Lambert Daniel Morin yang berhasil tembus Pameran Seni Rupa Tradisional Internasional ke-15 di Shanghai Art Collection Museum, mencuri perhatian para seniman.
Karya seni patung laba-laba berjudul Spider dengan berukuran 20 x 60 sentimeter milik seniman Lutse itu tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mencerminkan kekayaan seni dan jaringan budaya.
Ketua Umum Asosiasi Pematung Indonesia, Komroden Haro, menilai, karya tersebut memiliki perpaduan antara estetika organisme alam dan material industri yang keras dan usang.
"Namun, pemilihan bentuk laba -laba merupakan simbol ketangkasan dan kecerdikan dalam membangun struktur kehidupan," ucapnya, Selasa (9/12/2025).
Tidak hanya itu, ia pun merasa kagum dengan karya seni yang dibuat dari bahan recycle logam/besi.
Menurutnya, bahan patung itu menghadirkan narasi tentang waktu, perjalan, dan transformasi.
Kehadiran karya seni Lutse itu juga mengajak masyarakat untuk memikirkan kembali tentang penggunaan barang bekas dan material daur ulang sebagai cara untuk menyelamatkan bumi.
"Selain itu, penggunaan bahan logam dalam pembuatan patung ini disebut-sebut mengisyaratkan sebuah pesan penting tentang keberlanjutan dan kesadaran lingkungan," ujarnya.
Baca juga: Proses Pengerjaan Jembatan Darurat di Sriharjo Bantul Hampir Rampung
Jadi Inspirasi
Karya patung laba-laba itupun memberikan inspirasi mengenai pentingnya jejaring atau jaringan, yang tak hanya mengacu pada jaring yang dibangun oleh laba-laba tetapi juga menggambarkan hubungan yang saling terkait dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi dan keterhubungan antara individu dan komunitas, serta antara manusia dan lingkungan.
"Pada Akhirnya patung laba-laba karya Lutse ini menyampaikan pesan kelahiran ulang dari material sisa, hubungan manusia dan lingkungan dan keterampilan tangan dengan imajinasi modern," tuturnya.
Melalui karya Lutse, Komroden berharap bisa menjadi motivasi para seniman di Tanah Air untuk ikut mengibarkan karyanya ke berbagai belahan negara.
Sebab, karya dari laki-laki asal DI Yogyakarta ini, telah menjadi bagian monumen di berbagai belahan negara Asia, termasuk Tiongkok, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.
"Dengan karya ini, juga bukan hanya sekadar pajangan, melainkan sebagai medium untuk mendorong dialog tentang keberagaman cultural, kerapuhan ekosistem, dan perlunya kreativitas dalam konservasi lingkungan," tandas dia.(*)
| Syuting di Jogja, Film RBMT Masuk Kompetisi Utama Shanghai International Film Festival |
|
|---|
| Band Marsmolys Gelar Pameran Seni di ISI Yogyakarta, Padukan Musik dan Seni Rupa |
|
|---|
| Mengulik Karya Ikonik Nor Jayadi, Kursi Ergonomis Berbalut Sejarah Yogyakarta |
|
|---|
| Dies Natalis ke-42, ISI Yogyakarta Siapkan 21 Rangkaian Agenda Seni hingga Agustus 2026 |
|
|---|
| Melihat Pameran Kriya Organik di ISI Yogyakarta, Ada Karya Berbahan Kombucha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Patung-laba-laba-Dosen-Fakultas-Seni-Rupa-Dan-Desain-ISI-Yogyakarta.jpg)